Salah kaprah


SAlAH KAPRAH

Karya : Romy


Entah bagaiman caranya aku bisa terpilih sebagai komandan lapangan untuk kegiatan OSPEK penerimaan mahasiswa baru di kampusku. Sebuah kegiatan perploncoaan yang banyak ditakuti oleh para mahasiswa yang baru pertama kali menginjakkan kaki di bangku kuliah Teman-teman seangkatan bahkan ketua umum OSPEK sendiri sudah bersuara bulat menetapkan aku jauh-jauh hari sebelumnya Aku tidak habis pikir, masih banyak calon yang kupikir lebih pantas.
Dulu. saat pertama masuk, aku sendiri tidak mengikuti kegiatan ini dengan alasan aku tidak mau menjadi obyekan para senior kurang kerjaan, hanya untuk satu tujuan sepele, mengenakan jaket himpunan. Sungguh tidak masuk akal
Aku pikir Emil, ketua OSPEK sendiri yang notabene adalah konco beratku itu tentu sudah menggunakan hak pilihnya untukku sehingga semua mahasiswa langsung setuju.
Entahlah, yang penting semua senang. Lagipula apa susahnya menjadi seorang komandan lapangan, tinggal pasang tampang seram, latihan vocal supaya bisa teriak keras.Biar saat dilapangan nanti mahasiswa baru terkesima dan syukur-syukur kalau ada mahasiswi yang kecantol.
Hari pertama perploncoaan dimulai. Sejak pukul lima pagi, anak-anak baru sudah diwajibkan hadir di gedung kampus tapi dengan cara yang lain. Mereka harus berjalan merangkak mulai 10 meter dari gerbang kampus. Tidak ada yang boleh membawa kendaraan pribadi ataupun menumpang angkutan umum. Barangsiapa yang ketahuan, tentu dengan senang hati para senior akan menjatuhkan hukuman setimpal di tempat. Seketika aku merasa tersanjung sekali. Bayangkan, aku mendadak akan menjadi orang penting yang paling dipatuhi, paling ditakuti dan mungkin paling dihormati oleh semua anak baru bahkan oleh semua teman seangkatan.
Dengan dada dibusungkan aku memimpin pasukan TATIB , panitia Keamanan dan Ketertiban, menghampiri anak-anak yang akan jadi korban keganasan kami.
“Kalian pasti sudah tahu untuk apa kalian berkumpul disini !” Suaraku lantang sekali.
Semuanya diam
“Bodoh, masak itu saja kalian tidak tahu ?”
“Karena tidak ada yang menjawab….push up semua!” Jawabku disambut terikan teman-teman yang lain. “Ayyoooo…semua posisi push up !”
Sebentar saja gerbang kampus menjadi arena pertama penggojlokan anak-anak
Suara bentakan senior campur baur dengan teriakan anak-anak baru yang harus berhitung serentak
“Satu….dua….tiga….empattt !”
“Pada loyo semua ? Mana suaranya ? Lemah semuanya,!”
“Calon mahasiswa macam apa ini?” Emil si ketua OSPEK ikut berteriak membantu
Makian seperti itu mungkin seperti suara setan kesiangan buat anak-anak baru tapi menjadi kepuasaan tersendiri buat kami
Tak puas, kami mencoba memeriksa perlengkapan calon mahasiswa yang sebenarnya hanya siasat untuk mencoba mencari kesalahan . Bak kawanan sapi yang dicocok hidungnya mereka digiring ke lapangan basket untuk mendapatkan pengarahan sekaligus senam pagi bersama.
Acara senam pagi bersama yang seharusnya menjadi event untuk menjaga kebugaran anak-anak, tetap disisipi acara penggojlokan. Barangsiapa yang ditemukan melakukan gerakan yang salah, ia akan dipanggil ke depan untuk dihukum. Ada saja akal-akalan kami. Ada yang disuruh skot- jam sambil menjulurkan lidah, push up satu tangan dan lain- lain. Teman-teman si korban yang tertawa ataupun cekikikan ria akan ditarik juga keluar untuk menemani . Aku tersenyum melihat itu semua. Sambil berkacak pinggang di depan, aku perhatikan mereka semua. Senang bercampur bangga bisa memimpin semua orang-orang ini, apalagi sambil mengerjai orang lain.
Acara senam bersama berakhir. Para peserta masuk ke ruangan penataran yang akan diisi oleh para dosen dengan pemberian materi P4, Pancasila dan segala tetek bengek pelajaran kenegaraan. Para TATIB kini bisa mengistirahatkan tenggorokannya yang serak. Aku dan Emil membawa team yang berisi orang-orang tempramental itu ke ruang senat. Kami berdiskusi untuk hal-hal yang akan dilakukan nanti setelah acara penataran selesai. Masih dalam konsep membina mental mahasiswa baru…tentunya dalam kemasan yang sama, hukuman yang dicari-cari.
Rencanaku, nanti saat jeda, saat dosen pemberi materi keluar ruangan, kami akan masuk secara tiba-tiba, mengejutkan mereka semua untuk kemudian mencoba membacakan kesalahan yang mereka perbuat selama penataran, yang tentunya hanya omong kosong belaka.
Saat yang ditunggu pun tiba. Aku langsung memimpin teman-teman masuk secara tiba-tiba ke ruangan penataran tepat saat dosen keluar. Sesuai skenario, aku langsung berdiri di depan, dan dengan kertas berisikan catatan kesalahan yang direkayasa, aku berteriak keras,
“Tadi saat penataran berlangsung, saya mendapatkan laporan, kalau ada beberapa orang diantara kalian yang bermain-main dan asyik ngobrol sendiri, saat dosen berada di depan!” Aku berdiri di depan lengkap dengan sikap angker. Emil dan beberapa rekan lain berada di belakangku
“Ayo, yang merasa melakukannya maju ke depan!” Suaraku lantang seperti, menggelegar
Semua diam. Semua anak-anak ingusan itu seperti terpaku di tempat duduknya
“Ayyoooo ngaku …semua ngaku !”. Serentak semua teman TATIB yang sudah mengepung di segala penjuru berteriak mendukung tuduhanku. Ada yang berteriak keras langsung ke telinga peserta, ada yang hanya meramaikan dari kejauhan
“Pengecut semua…tidak mau ngaku!”
Semua tetap diam, ketakutan di tempatnya. Mereka memang tidak melakukannya.
“Sekali lagi saya harap, yang melakukannya maju ke depan!” Ulangku, dengan suara lebih keras. Ruangan itu benar-benar bising dengan teriakan kami. Tapi tetap tidak ada satupun yang berani maju
“Saya juga dapat laporan kalau ada diantara kalian yang tertidur saat dosen menerangkan di depan!” Rekayasa sinetronku makin sempurna
Serentak lagi, bagai gabungan koor paduan suara, teman-teman berteriak lebih keras,
“Ayo, mana dia …pengecut semua…anak mama semua !” Ayooo maju !”
Aku semakin merasa jumawa. Mereka berhasil kami pecundangi. Kepalaku seperti di awang-awang, senang dan bangga sudah berbuat sampai sejauh ini. Puluhan calon mahasiswa jurusanku ini harus tahu kalau akulah yang berkuasa disini. Akulah yang punya wewenang besar untuk menguji sampai dimana nyali mereka.
“Kalau tidak ada yang mengaku juga…kalian dihukum semua !”
“Semua tundukkan kepala….tidak ada yang bersuara…tidak ada yang bergerak!”
Puluhan mahasiswa itu serentak menundukkan kepalanya masing-masing. Tidak ada yang berani macam-macam. Belasan TATIB ikut berteriak Suasana menjadi gaduh
Aku membusungkan dada. Hebat sekali aku bisa berbuat semaunya pada mereka
Tapi tunggu, aku melihat seorang peserta …yah seorang mahasiswa di sisi kiriku, yang kendati menunduk, namun kepalanya terlihat bergoyang dan bergerak-gerak
Aku kontan marah. Aku dekati dia. Berteriak keras di telinganya
“Kamu melawan yah.?”Tanyaku “Saya bilang jangan bergerak ! “
Mahasiswa itu masih menggerakkan kepalanya yang tertunduk
“Kamu tidak dengar ?” Aku marah “Kurang ajar !” “Bangun dari kursi dan hadapi saya!” Pekikku , penuh emosi. Orang ini sepertinya perlu diajar sopan-santun
Si mahasiswa bertubuh gemuk tidak bergeming. Kepalanya kini bergetar hebat, mukanya terangkat ke atas. Orang itu menatapku dengan mata melotot.
“Sini kamu!”
“Ampun…kak…ampun !”…..ujarnya putus-putus. Tubuhnya menggigil hebat, kemudian kejang lalu terdiam kaku di kursi. Ia terkulai lemas tak berdaya setelah mengeluarkan kata-kata itu.
Aku pegang tangannya. Tangan yang lemah sekali. Tak ada denyut nadi disitu. Aku lebih mendekat . Tidak ada nafas .Semua TATIB merubung mendekat. Aku terpana di samping tubuh dingin itu.
Tubuhku tersungkur ke lantai ruang penataran tatkala samar-samar kudengar seseorang berkata kalau mahasiswa itu mempunyai kelainan pada jantungnya sejak kecil.

No comments:

Post a Comment