Pukul 9 malam lewat, ketika aku bergegas melangkahkan kaki meninggalkan rumah Wati, pacarku. Obrolan sepanjang sore diselingi suguhan kue yang nikmat dari pujaan hati berhasil membuatku lupa akan waktu . Malam ternyata telah merambat kelam.“Ahh… cinta memang membuat orang lupa segalanya ,”pikirku dalam hati
“Sialll…!” teriakku takkala cipratan air kotor mampir di muka dan baju . Lamunan panjang spontan buyar akibat ulah sebuah corolla hitam yang memacu gasnya melewati genangan air di pinggir jalan.. “Huuuh!”Untung hanya sedikit!” . Seakan tak perduli pada korbannya, mobil itu terus saja melaju dengan kencang . Entah setan mana yang merasuki pengemudi mobil itu.
Sembari menjentikkan sisa air yang melekat di wajah, kupercepat langkah kaki menuju persimpangan jalan dimana biasanya para pejalan kaki menghentikan bis. Bis ekonomi jurusan Sudirman – Grogol yang ditunggu tak lama muncul juga . Tanpa menunggu bis tua yang penuh sesak itu betul-betul berhenti, aku meloncat masuk…”Semoga masih ada bangku yang kosong “ harapku . Dugaan yang salah besar. Bis tua yang dari kondisi fisiknya cukup layak untuk dimuseumkan itu ternyata sarat oleh penumpang yang berjejalan tak menentu. Para penumpang yang sebagian besar pulang dari tempat bekerja masing-masing tampak bergelantungan di sepanjang lorong , kelelahan. Jangankan untuk mendapatkan tempat duduk, untuk berdiri saja sudah repot. Aroma tubuh yang beraneka ragam kucoba tepiskan untuk merangsek masuk mencari posisi yang mungkin kosong , dan sykurlah masih ada bagian tengah yang kosong.
“ Tenang mas, ntar di depan dekat pasar, banyak yang turun kok ! “ bisik seorang lelaki tua yang berdiri di sampingku. Ia tersenyum yakin dengan perkataannya. “Di pasar depan …bisnya mutar balik soalnya.” Sambungnya
Limbung akibat sarat oleh jejalan penumpang, bis melaju kencang.
“Si sopir pasti sudah ahli mengemudikan kendaraan tua tentunya, mustahil rasanya bagi orang biasa untuk memacu bis di jalan besar dengan kondisi mesin yang sudah uzur seperti ini,” gumamku sambil berpegang kencang pada pipa besi .
Benar saja tepat di persimpangan jalan pasar rebo,bis berhenti pelan. Pak sopir berteriak dengan keras…” Yah.. yang..pasar rebo…pasar rebo !”… samar-samar dari keremangan lampu bis, tampak wajahnya yang hitam berkumis tebal mengingatkanku pada tipikal tokoh penjahat yang sering tampil dalam sinetron-sinetron televisi..Para penumpang turun satu persatu . Orang-orang yang tadi bergantungan berkurang satu persatu , sampai akhirnya benar-benar kosong . Kini yang tinggal hanya aku sendiri bersama seorang kondektur dan sopir yang bertampang seram itu.
“Kemana mas ?” Tanya si sopir dingin
“Ke Komdak lagi kan pak ? “ sahutku acuh.
“Yah…..!”Sahutnya kasar dengan muka tetap ke depan. Bis kembali melaju.Kali ini hanya membawa satu orang penumpang, yaitu aku. Sementara malam semakin merambat pekat , jarum jam sekarang menunjuk pada pukul 10 malam.
Aku merasa aneh sendirian berada di dalam bis itu., bersama seorang sopir yang kasar dan seorang kondektur yang dari tadi berdiri terpaku di dekat pintu depan. Bis tua itu kembali menderu dengan suara parau kala dipacu dengan kencangnya memasuki jalan tol. Aku duduk persis di belakang punggung sopir yang kini diam seribu bahasa.
“ Orang ini besar sekali , badannya yang gemuk membuat dia lebih pantas menjadi pegulat atau petinju saja, “pikirku.
Lampu di dalam bis yang kini sudah dipadamkan semua membuat keadaan menjadi remang-remang .Yang tampak hanya lampu-lampu di pinggir jalan, seperti berlari-lari meninggalkan kami.
Mendadak aku bergidik, perasaan seram sekonyong-konyong mulai menghantui benakku. Bagaimana kalau mereka berencana jahat terhadap aku ? Bagaimana jika mereka tiba-tiba ingin merampokku ? Bagaimana jika setan jahat melintas di benak mereka ?
Aku hanya sendirian ditengah orang-orang asing ini. Apa saja bisa mereka lakukan terhadapku.
Semuanya bisa mereka perbuat jika mereka mau.
Si kondektur yang dari tadi diam saja perlahan beringsut mendekati sopir bis itu
Mereka tampak berbisik di keremangan cahaya lampu bis . Tidak jelas apa yang diomongkan, sesekali si kenek itu menoleh-noleh ke arahku ..
“Aduuuh, matilah aku . Dugaanku pasti benar,”
Aku mulai gemetar di bangku. Kakiku terasa beku susah digerakkan seperti ada berton es menjalari seluruh jemari.
Ingatanku tentang banyaknya berita krimnal di Koran yang sering terjadi di kota besar membuat aku bergidik ketakutan.. Tas kudekap lebih erat, jam tangan yang bisa saja menjadi pemicu kejahatan, kumasukkan ke dalam saku celana, aku harus atasi rasa takut ini. Tapi mampukah ?
“ Enak yah Bang? “ Desis si kondektur yang tiba-tiba sudah bergerak ke sisiku.
“ Enak apanya?” Sahutku dengan suara diberatkan , sengaja, semoga dia akan menjadi segan dan tidak akan bertindak lebih jauh lagi.
“ Yah..enak…dong…situ kan jadi seperti naik mobil sendiri….disopirin! “ tak mau kalah ketus dia menjawab…Matanya yang liar mulai mengawasiku dari atas sampai bawah , berkilat mencorong di bawah suramnya lampu bis. Mata bengis itu kini bergerak pelan kearah ransel di tanganku ,seakan ingin mengetahui isinya..
“Mati aku !” batinku bergidik. Mau kabur melompat tidak mungkin, bis melaju sangat kencang dijalan bebas hambatan itu .Bakal mati konyol namanya jika aku nekad . Habislah aku …habis sudah nasibku
Aroma alkohol yang memuakkan tercium dari mulutnya manakala mukanya yang berjambang maju mendekat. Seringai tajam menyungging dari bibirnyanya yang hitam. Sekelebat tampak kilatan cahaya dari balik tangan si kenek. Kilatan itu seperti sebuah benda tajam.Itu pasti…pasti sebuah pisau.
Aku tak dapat berpikir lagi. Tidak tahu harus berbuat apa, melawan mereka sama dengan menyerahkan tenggorokan sendiri. Mati konyol. Preman terminal ini pasti tidak akan segan-segan bermain dengan nyawa korbannya. Aduhh Tuhan bagaimana sekarang?
Pasti sebentar lagi benda laknat itu akan ada di tenggorokanku. Pasti sebentar lagi aku sudah tak bernyawa lagi dan pastilah setelah puas menguras dompetku mereka akan melemparkan mayatku begitu saja di tengah jalan…dan pasti besok namaku akan tertera di koran – koran dan tabloid ibukota …. tentang seorang pria yang ditemukan tewas terbuang di pinggir jalan,
Keluargaku dan Wati, pacarku akan menagisi kepergianku yang begitu cepat…dan…dan…
Ohhh Tuhan..aku tidak mau itu semua terjadi.Rasa takut sudah sepenuhnya menguasai otak dan nalarku.Aku tidak dapat berpikir lurus lagi.
Satu-satunya jalan aku harus lari….aku harus lompat , bagaimanapun caranya aku harus kumpulkan semua kekuatan untuk melompat dari bis jahanam ini
Detik-detik yang menegangkan, saat wajahnya yang buas semakin dekat ke arahku, kukerahkan semua tenagaku, dorong badan si brengsek itu…!.
Ia terjungkal keras ke belakang. Dengan limbung ia berusaha bangkit
Ahhh…. Inilah kesempatan yang baik …ini kesempatan yang sangat tepat untuk kabur.
Aku berlari sekencang mungkin ke arah pintu depan, bis tua masih melaju dengan kencang…
aku begitu takut tapi aku harus loncat…loncat dan loncat…sampai aku bebas..bebas.
Esok hari Koran pagi memuat sebuah berita tentang seorang pria yang nekad meloncat dari sebuah bis dan mati terlindas oleh sebuah truk container yang melaju kencang tepat di belakang. Menurut wawancara dengan sopir bis yang bersangkutan, korban mendadak meloncat dari bis sesaat setelah sang kondektur ingin menagih ongkos bayaran.
No comments:
Post a Comment