Friday, 11 March 2016

You are my hiding place


You Are My Hiding Place



Perasaanku bercampur aduk..Haru, sendu dan gemetar saat menatap seraut wajah. Wajah yang pucat seputih kertas milik sahabatku. Sahabat yang kini terbujur kaku di dalam sebuah peti..Peti jenazah kayu yang tebaring di tengah ruangan. Suasana sangat mengharu biru. Jeritan tangis mengoyak rumah tua. . Rumah yang berdiri reot di ujung sebuah gang kecil di dalam pemukiman yang kumuh. Hujan yang turun sedari pagi membuat air got di kompleks itu melimpah tak karuan. Membuat becek dan kotor disana-sini. Herannya, semua warga tua muda, besar dan kecil, seakan tak peduli pada derasnya hujan. Mereka terus saja menjambangi keluarga sobatku yang ditimpa kemalangan Ramai sekali. Orang–orang berdatangan silih berganti.
Orang paling memilukan adalah Ani. Dari tadi si bungsu dari tiga bersaudara keluarga batak ini terus menangis histeris bersandar disamping peti kakaknya. Tangannya sebentar-sebentar mengusap rambut sang kakak, seakan tidak ingin berpisah sedetikpun
“ Kak Ida…Kakak…!” Serunya diantara suaranya yang mulai terdengar parau.
“ Jangan tinggalin Ani !” Hati siapa takkan hancur melihat kondisi anak perempuan berumur belasan tahun ini. Beberapa kali dia pingsan tak kuasa menghadapi kepedihan. Sang abang, Jones, hanya mampu tertunduk sedih. Ia belai kepala sang adek, mencoba menghibur.
Di bagian depan peti, tampak Ibunda mendiang duduk terpekur menatap kosong. Matanya menerawang. Ia tampak mengenakan ulos ( kain tenunan khas tapanuli ) tanda duka cita. Kepalanya juga bertutupkan ulos dengan warna senada. Warna berkabung. Sekali-kali wanita tua ini menjerit memanggil nama sang anak. Beberapa kerabat mencoba menenangkan, tapi tak dihiraukan .Malang sekali ibu ini. Belum setahun dia ditinggal suami, saat ini dia harus pula mengiklaskan anak perempuan nya meninggalkan mereka. Suasana semakin haru oleh suara nyanyian. Nyanyian rohani yang diadakan oleh pihak gereja sebagai kebaktian penghiburan untuk memberikan kekuatan buat keluarga yang ditinggalkan.
Setengah jam berlalu. Saatnya peti akan ditutup. Saatnya untuk mengantar sobatku ke tempat akhir peristirahatannya. Bapak pendeta lapat-lapat membacakan pesan terakhir diakhiri dengan doa penutup. Tangis Ani, ibunda dan keluarga sekan memecah ruangan saat peti akan dipaku. Tak kuasa aku melihat pemandangan ini. Ani dan sang mama berusaha menahan orang-orang yang akan memasang tutup peti. Mereka menjerit sejadi-jadinya tak ingin berpisah dengan anak dan kakak tercinta.Sungguh menyanyat hati. Beberapa sanak saudara mencoba menarik mereka dari peti dan beberapa lagi sudah merubung, bersiap mengangkat. Tanpa dikomando, aku memberikan tangan untuk terakhir kalinya. Aku sengaja mengambil posisi depan, membelakangi jenazah. Sementara teman-teman yang lain bergerombol membantu dari kiri, kanan dan belakang. Kucoba kuatkan hati ketika sekilas kutatap foto almarhumah yang terpasang persis di atas kepalanya. Ida yang centil, Ida yang cerewet , yang kukenal lebih dua tahun lalu. Tanganku gemetar dan mataku sembab
Peti itu terasa berat, seberat hatiku melepas kepergian sang teman.
Aku berjalan perlahan memimpin barisan duka . Tak kuhiraukan susana yang semakin mengharu biru. Kucoba tutup telinga dari sayup-sayup nyanyian gereja yang kembali terdengar dari dalam rumah.
“Ahh ida… terlalu cepat kau pergi,”
Saat peti dimasukkan ke belakang mobil jenazah, Ani yang siuman dari pingsan berlari mengejar. Tersedu-sedu ia berteriak,
“Kak Ida…jangan pergi!”
Tubuh gadis kurus itu terseok untu kemudian jatuh di tanah yang becek. Teman-teman membopongnya naik ke dalam mobil Didudukkan disamping peti. Rombongan mobil pun bergerak perlahan menuju lokasi pemakaman.
Aku ingat baru sebulan yang lalu, aku baru bertemu dia. Sore hari saat matahari malu-malu berpulang ke peraduannya, wanita berumbuh tambun itu datang ke rumah kosku. Ida memang selalu penuh kejutan dan suka menyenangkan orang. Jika datang berkunjung, dulu di rumah kontarkanku yang lama, ia sering membawakan aku dan teman-teman kue tart atau coklat. Kami yang selalu kelaparan akan selalu mencintai kehadirannya. Ia juga seorang yang baik dan tulus. Tidak segan-segan ia memberikan bantuan bila ada yang membutuhkan. Adalah kebanggan tersendiri jika Ida menganggap aku sebagai abangnya. Ia begitu perhatian dan menyenangkan. Dari segi fisik, Ida mirip sekali dengan sosok Dewi Hughes, seorang presenter televisi yang sedang kondang. Banyak kesamaan diantara mereka. Mereka berdua adalah wanita yang supel dan terbuka. Tipikal orang yang selalu dikelilingi banyak teman karena ramah dan murah hati. Sore itu ia datang dibonceng seorang pria dengan mengendarai vespa. Kelihatan sekali mereka terburu-buru.. Rumah kontarkanku yang baru kali ini memang cukup sulit ditemukan, berada jauh dari keramaian membuat mereka sempat kesasar. Aku dan teman-teman sengaja pindah dari kediaman lama dan pindah mencari rumah baru yang lebih murah, sekedar menghemat biaya yang makin melangit. Karena kehilangan arah, Idapun menelponku minta aku ditemui di depan gang.
“Hallo Bang…akhirnya ketemu juga. Kenapa sih cari rumah jauh-jauh pisan.!” Tanpa babibu dengan gayanya yang ceriwis dan manja dia turun dari vespa “Mustinya cari rumah yang dekat jalan besar dong…biar ida ngga kesasar”
Aku cengegesan
“Yah…dapatnya disini…gimana lagi”Jawabku sekenanya.
“Ida nggak bisa lama-lama Bang.!” Wanita yang kukenal sejak 2 tahun yang lalu itu menyalamku.
“Abis doi…,”matanya menatap genit lelaki yang mengendarai vespa,”dia pengen buru-buru. “….“Oh ya sorri ini pacar Ida…malam ini kita ada paduan suara lagi di gereja.”
Ida memang terkenal aktif sekali dalam sebuah perkumpulan paduan suara di gerejaku. Bakatnya yang besar dalam oleh vokal, dia salurkan di wadah ini.Saat ini Ida menjadi ketua perkumpulan itu. Mereka sering mengadakan pementasan koor untuk mencari dana bagi kegiatan keagamaan. Ia selalu punya waktu untuk menggalang dana dan sumbangan bagi rakyat jeata, tak perduli dari latar belakang agama manapun. Tak hanya aktif di gerjea, Ida yang bagiku punya suara sebening air, juga aktif menyumbangkan suaranya untuk kegiatan sosial di panti asuhan ataupun panti jompo yang diselenggarakan kampusnya. Di matabanyak orang, Ia seperti seorang bidadari yang sengaja diturunkan dari langit untuk membuat semua orang tersenyum dan bahagia.
“Ida pengen ngasih ini aja.” Dia menjulurkan sebuah kaset. Kaset biasa yang ternyata berisi rekaman lagu. Lagu rohani berisi pujian dan penyembahan pada Yang Kuasa.
Aku menerimanya dengan bengong
“Dengerin yah lagunya…lagu rohani…Don Moen…bagus-bagus deh!”. Wanita itu tersenyum, memperlihatkan sebaris putih giginya. Ia memang sangat suka mengoleksi kaset dari dulu. Kaset apa saja, tapi semenjak aktif di paduan suara, dia mulai menyenangi lagu-lagu religi masa kini dalam dan luar negri.
“Ida suka sekali dengan lagu You Are My Hidding Place….kalau Abang dengerin itu…inget Ida yah” , Ia tersenyum lucu,”Truss main-main dong ke rumah. Kak Rosa datang lho dari Bali…..hehehe”
Sore itu kemudia menjadi hangat sehangat tawa Ida, sesaat setelah vespa bergerak meninggalkan diriku. Sisa Kepulan asap yang menerpa muka seolah melemparkan ingatanku pada kenangan dulu, pada sepotong nama. Rosa. Memoriku terkuak, melayang jauh ke masa lalu. Ya Rosa. Aku enal sekali nama itu. Nama seorang wanita , teman sekost Ida. Wanita yang dulu yah sudah lama sekali pernah menghiasi hari-hari dalam buku diaryku. Kami pernah cukup dekat, dan semua itu atas jasa Ida. Idalah yang menjadi mediator alias mak comblang hubungan kami. Aku senang Ida paham kalau sebagai seorang pendatang tanpa sanak saudara di kota besar seperti Bandung, aku butuh seseorang untuk dicintai. Seorang wanita yang mampu menyejukkan kesendirianku yang jauh dari keluarga. Ida yang baik mengenalkan aku pada Rosa, seorang perempuan yang lembut . Entah kenapa dia begitu senang aku dan Rosa punya hubungan khusus. Ida berkilah kalau ia ingin agar sobat dekat yang selalu dipanggilnya kakak itu bisa mendapatkan seorang laki-laki yang baik, tidak seperti mantan pacarnya yang brengsek dulu.
“Hehehe…masak aku lebih baik sih ?”Suatu kali aku bertanya
“Yah seenggaknya abang tidak begajulan kayak exnya Kak Rosa!” Abang juga bisa diandalin sebagai cowok…kalo Ida liat sih Abang cukup setia dan ngga macam-macam.. idaman semua wanita sedunia deh…hehe!”
“Jangan ampe terbang bang!” Sambungnya ketika melihat wajahku yang sumringah.
Kami akhirnya tertawa terbahak-bahak
Sungguh bagiku pribadi kehadiran Ida selalu membawa kebahagiaan di manasaja. Bahkan saat aku mulai letih dengan urusan skripsi yang macet di tengah jalan Saat rasa frustasiku yang meenghimpit ketika para dosen pembimbing kurasakan seperti sengaja memperlambat gerakanku dengan segudang argumen ilmiah mereka. Ida selalu punya waktu untuk memompa semangatku yang kembang kempis. Ia selalu ada cara untuk membuat aku bangkit dan bangkit lagi. .
Lebih kurang enam bulan lamanya hubunganku dan Rosa baik-baik saja sebelum badai itu kemudian datang. . Bermula dari kecurigaanku kalau Rosa punya hubungan dengan Dodi, teman kampusnya Egoku seakan terusik kala teman-teman bilang kalau mereka sering kelihatan jalan berdua. Rosa mengelak dan menyangkal. Ia bilang hubungan mereka cuma teman biasa. Aku yang dibakar cemburu tidak mau terima. Ida yang berusaha menenangkanku , kutampik keras Sejak itu hubungan kami renggang. Rosa kemudian lulus dan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan cargo, jauh di pulau Bali sana dan aku tetap di bandung, melanjutkan sekolah s2.
Bunyi telpon selular di kantong celana seakan menarikku dari lamunan yang panjang. Nomer Ida ada di layarnya.
“Bang, jangan lupa..malam ini ditunggu di kosan yah ? “ Ida merengek seperti memohon.
“Ok …aku usahin yah” Aku ingat janjiku tadi sore
“Harus …mesti ..dan wajib….pokoknya…kaloo ngga awas!” Teriakannya tidak sesadis ancamannya. Malam itu, seperti kisah-kisah cinta di dalam novel, aku berdamai dengan Rosa. Ia minta aku kembali dan aku bersedia.
“Nah…semua jadi kan enak….makanya jangan cemburuan dong….Dodi ngga ada apa-apanya kog dibanding Abang!”Yah kan Kak ?’
Rosa tersipu malu, sambil mencubit perut Ida yang gendut dia tersenyum
“Makasih yah…kamu emang adek ku yang baik.”Suasana menjadi hangat kembali. Semua berkat Ida. Seperti dulu lagi ia menjadi juru damai hubungan kami yang pernah retak.
Siang yang terik. Aku baru pulang dari kampus. Tugas akhir sudah mencapai bab ke 4 dan sebentar lagi aku sidang. Iseng kuputar lagi lagu dari tape recorder. Suara Don Moen terdengar indah memenuhi telinga dan ruangan kamar. Aku suka sekali kaset itu, kaset pemberian Ida kemaren. Apalagi lagunya. Lagu dengan judul You Are My Hiding Place. Suasana menjadi damai sekali .
…..You are my Hiding place…
…You always fill my heart…..
…with song and deliverence……
Entah berapa lama aku hanyut dalam lamunan sampai suara ketukan di pintu membuyarkan. Rosa datang dengan mata sembab berkaca-kaca. Sambil tersedu ia mengabarkan sebuah berita sedih. Semalam Ida harus masuk rumah sakit karena pingsan mendadak. Hasil diagnosis dokter, Ida ternyata mengalami penyempitan pembuluh darah, Adalah menggenaskan dan sungguh disayangkan bahwa selama ini dia tidak pernah menceritakan kelainan jantung bawaannya ini pada kami. Rahasia ini ditutup rapat. Hanya pada adik bungsunya Ani saja dia berterusterang.
“Aku sedih…Ida ngga mau terus terang. Ida cuma bilang kalau dia tidak ingin ngerepotin kita !”terbata-bata pacarku bertutur.
“Padahal aku sudah mengagap dia sebagai adik!”
Aku tertegun pilu. Suara Don Moen makin terasa sendu
…..You are my Hiding place…
…You always fill my heart…..
…with song and deliverence……
…..Whenever I m afraid……..
…I will trust in You………..I will trust in You
Setelah tiga hari menjalani perawatan intensif, dokter memutuskan Ida untuk pulang beristirahat di rumah. Keluarganya datang menjemput ke Bandung, dan kami turut mengantarkannya ke Jakarta. Sampai suatu hari, tepat sebulan setelah Ida pulang. Seharusnya hari itu menjadi hari paling bahagia dalam hidupku. Seharusnya hari itu aku senang ketika aku dinyatakan lulus dari sidang skripsi yang menakutkan. Harusnya demikian, tapi sebaliknya siang itu menjadi siang yang menyedihkan. Hatiku remuk dan tangisku bergemuruh di dada sesaat setelah mebaca sms singkat dari Rosa. Sepotong kalimat yang singkat
”.Ida meninggal subuh tadi, setelah pingsan …kita harus ke jakarta …siang ini “
Koor lagu gereja kini berakhir diantara isak tangis yang mulai redup terdengar di atas tanah pemakaman. Tanah pekuburan merah berbatu-batu. Angin semilir menusuk tulang. Bapak pendeta mulai berkhotbah. Singkat saja. Dari debu kembali ke debu. Sesungguhnya tiada sesuatupun yang kekal di dunia ini. Doa pun dipanjatkan melepas kepergian orang tercinta. Peti perlahan diturunkan ke bawah bumi. Ani sudah tidak pingsan lagi walau tubuhnya masih bergetar oleh segukan. Beberapa teman memegangi si bunsu dari belakang. Para kerabat mendekap Ibunda yang tertunduk letih memandang ke dalam liang.
Angin semakin dingin. Peti kayu mulai tertimbun tanah basah. Para pelayat tertunduk dalam keheningan. Aku tercenung bak patung.
Setelah hari ini, mungkin tak ada lagi senyum ceriamu menghiasi hari. Mungkin tak kan kudengar lagi suaramu yang bening memimpin koor paduan suara anak-anak dan mungkin setelah ini tiada kurasakan derai tawamu ditengah-tengah kebahagiaan kami
Kau lelah membuat kami tertawa tanpa seorang pun tahu kau sedang menangis. Kau mungkin capek menghibur tanpa seorangpun tahu kau lebih pantas dihibur.
Tapi satu yang kupercaya, kerinduanmu itu kini sudah terjawab. Bahwa kau sudah menemukan kedamaian yang sesungguhnya di sana…
Selamat jalan adik dan sobatku tercinta.. Aku tidak akan lupa lagumu itu………lagu indah dari sebuah kaset rekaman yang kau berikan untuk ku…….
Selamat menemukan tempat persembunyianmu…… yang kekal…..………….
…..You are my Hiding place…
…You always fill my heart…..
…with song and deliverence……
…..Whenever I m afraid……..
…I will trust in You………..I will trust in You

.


No comments:

Post a Comment