Friday, 11 March 2016

You are my hiding place


You Are My Hiding Place



Perasaanku bercampur aduk..Haru, sendu dan gemetar saat menatap seraut wajah. Wajah yang pucat seputih kertas milik sahabatku. Sahabat yang kini terbujur kaku di dalam sebuah peti..Peti jenazah kayu yang tebaring di tengah ruangan. Suasana sangat mengharu biru. Jeritan tangis mengoyak rumah tua. . Rumah yang berdiri reot di ujung sebuah gang kecil di dalam pemukiman yang kumuh. Hujan yang turun sedari pagi membuat air got di kompleks itu melimpah tak karuan. Membuat becek dan kotor disana-sini. Herannya, semua warga tua muda, besar dan kecil, seakan tak peduli pada derasnya hujan. Mereka terus saja menjambangi keluarga sobatku yang ditimpa kemalangan Ramai sekali. Orang–orang berdatangan silih berganti.
Orang paling memilukan adalah Ani. Dari tadi si bungsu dari tiga bersaudara keluarga batak ini terus menangis histeris bersandar disamping peti kakaknya. Tangannya sebentar-sebentar mengusap rambut sang kakak, seakan tidak ingin berpisah sedetikpun
“ Kak Ida…Kakak…!” Serunya diantara suaranya yang mulai terdengar parau.
“ Jangan tinggalin Ani !” Hati siapa takkan hancur melihat kondisi anak perempuan berumur belasan tahun ini. Beberapa kali dia pingsan tak kuasa menghadapi kepedihan. Sang abang, Jones, hanya mampu tertunduk sedih. Ia belai kepala sang adek, mencoba menghibur.
Di bagian depan peti, tampak Ibunda mendiang duduk terpekur menatap kosong. Matanya menerawang. Ia tampak mengenakan ulos ( kain tenunan khas tapanuli ) tanda duka cita. Kepalanya juga bertutupkan ulos dengan warna senada. Warna berkabung. Sekali-kali wanita tua ini menjerit memanggil nama sang anak. Beberapa kerabat mencoba menenangkan, tapi tak dihiraukan .Malang sekali ibu ini. Belum setahun dia ditinggal suami, saat ini dia harus pula mengiklaskan anak perempuan nya meninggalkan mereka. Suasana semakin haru oleh suara nyanyian. Nyanyian rohani yang diadakan oleh pihak gereja sebagai kebaktian penghiburan untuk memberikan kekuatan buat keluarga yang ditinggalkan.
Setengah jam berlalu. Saatnya peti akan ditutup. Saatnya untuk mengantar sobatku ke tempat akhir peristirahatannya. Bapak pendeta lapat-lapat membacakan pesan terakhir diakhiri dengan doa penutup. Tangis Ani, ibunda dan keluarga sekan memecah ruangan saat peti akan dipaku. Tak kuasa aku melihat pemandangan ini. Ani dan sang mama berusaha menahan orang-orang yang akan memasang tutup peti. Mereka menjerit sejadi-jadinya tak ingin berpisah dengan anak dan kakak tercinta.Sungguh menyanyat hati. Beberapa sanak saudara mencoba menarik mereka dari peti dan beberapa lagi sudah merubung, bersiap mengangkat. Tanpa dikomando, aku memberikan tangan untuk terakhir kalinya. Aku sengaja mengambil posisi depan, membelakangi jenazah. Sementara teman-teman yang lain bergerombol membantu dari kiri, kanan dan belakang. Kucoba kuatkan hati ketika sekilas kutatap foto almarhumah yang terpasang persis di atas kepalanya. Ida yang centil, Ida yang cerewet , yang kukenal lebih dua tahun lalu. Tanganku gemetar dan mataku sembab
Peti itu terasa berat, seberat hatiku melepas kepergian sang teman.
Aku berjalan perlahan memimpin barisan duka . Tak kuhiraukan susana yang semakin mengharu biru. Kucoba tutup telinga dari sayup-sayup nyanyian gereja yang kembali terdengar dari dalam rumah.
“Ahh ida… terlalu cepat kau pergi,”
Saat peti dimasukkan ke belakang mobil jenazah, Ani yang siuman dari pingsan berlari mengejar. Tersedu-sedu ia berteriak,
“Kak Ida…jangan pergi!”
Tubuh gadis kurus itu terseok untu kemudian jatuh di tanah yang becek. Teman-teman membopongnya naik ke dalam mobil Didudukkan disamping peti. Rombongan mobil pun bergerak perlahan menuju lokasi pemakaman.
Aku ingat baru sebulan yang lalu, aku baru bertemu dia. Sore hari saat matahari malu-malu berpulang ke peraduannya, wanita berumbuh tambun itu datang ke rumah kosku. Ida memang selalu penuh kejutan dan suka menyenangkan orang. Jika datang berkunjung, dulu di rumah kontarkanku yang lama, ia sering membawakan aku dan teman-teman kue tart atau coklat. Kami yang selalu kelaparan akan selalu mencintai kehadirannya. Ia juga seorang yang baik dan tulus. Tidak segan-segan ia memberikan bantuan bila ada yang membutuhkan. Adalah kebanggan tersendiri jika Ida menganggap aku sebagai abangnya. Ia begitu perhatian dan menyenangkan. Dari segi fisik, Ida mirip sekali dengan sosok Dewi Hughes, seorang presenter televisi yang sedang kondang. Banyak kesamaan diantara mereka. Mereka berdua adalah wanita yang supel dan terbuka. Tipikal orang yang selalu dikelilingi banyak teman karena ramah dan murah hati. Sore itu ia datang dibonceng seorang pria dengan mengendarai vespa. Kelihatan sekali mereka terburu-buru.. Rumah kontarkanku yang baru kali ini memang cukup sulit ditemukan, berada jauh dari keramaian membuat mereka sempat kesasar. Aku dan teman-teman sengaja pindah dari kediaman lama dan pindah mencari rumah baru yang lebih murah, sekedar menghemat biaya yang makin melangit. Karena kehilangan arah, Idapun menelponku minta aku ditemui di depan gang.
“Hallo Bang…akhirnya ketemu juga. Kenapa sih cari rumah jauh-jauh pisan.!” Tanpa babibu dengan gayanya yang ceriwis dan manja dia turun dari vespa “Mustinya cari rumah yang dekat jalan besar dong…biar ida ngga kesasar”
Aku cengegesan
“Yah…dapatnya disini…gimana lagi”Jawabku sekenanya.
“Ida nggak bisa lama-lama Bang.!” Wanita yang kukenal sejak 2 tahun yang lalu itu menyalamku.
“Abis doi…,”matanya menatap genit lelaki yang mengendarai vespa,”dia pengen buru-buru. “….“Oh ya sorri ini pacar Ida…malam ini kita ada paduan suara lagi di gereja.”
Ida memang terkenal aktif sekali dalam sebuah perkumpulan paduan suara di gerejaku. Bakatnya yang besar dalam oleh vokal, dia salurkan di wadah ini.Saat ini Ida menjadi ketua perkumpulan itu. Mereka sering mengadakan pementasan koor untuk mencari dana bagi kegiatan keagamaan. Ia selalu punya waktu untuk menggalang dana dan sumbangan bagi rakyat jeata, tak perduli dari latar belakang agama manapun. Tak hanya aktif di gerjea, Ida yang bagiku punya suara sebening air, juga aktif menyumbangkan suaranya untuk kegiatan sosial di panti asuhan ataupun panti jompo yang diselenggarakan kampusnya. Di matabanyak orang, Ia seperti seorang bidadari yang sengaja diturunkan dari langit untuk membuat semua orang tersenyum dan bahagia.
“Ida pengen ngasih ini aja.” Dia menjulurkan sebuah kaset. Kaset biasa yang ternyata berisi rekaman lagu. Lagu rohani berisi pujian dan penyembahan pada Yang Kuasa.
Aku menerimanya dengan bengong
“Dengerin yah lagunya…lagu rohani…Don Moen…bagus-bagus deh!”. Wanita itu tersenyum, memperlihatkan sebaris putih giginya. Ia memang sangat suka mengoleksi kaset dari dulu. Kaset apa saja, tapi semenjak aktif di paduan suara, dia mulai menyenangi lagu-lagu religi masa kini dalam dan luar negri.
“Ida suka sekali dengan lagu You Are My Hidding Place….kalau Abang dengerin itu…inget Ida yah” , Ia tersenyum lucu,”Truss main-main dong ke rumah. Kak Rosa datang lho dari Bali…..hehehe”
Sore itu kemudia menjadi hangat sehangat tawa Ida, sesaat setelah vespa bergerak meninggalkan diriku. Sisa Kepulan asap yang menerpa muka seolah melemparkan ingatanku pada kenangan dulu, pada sepotong nama. Rosa. Memoriku terkuak, melayang jauh ke masa lalu. Ya Rosa. Aku enal sekali nama itu. Nama seorang wanita , teman sekost Ida. Wanita yang dulu yah sudah lama sekali pernah menghiasi hari-hari dalam buku diaryku. Kami pernah cukup dekat, dan semua itu atas jasa Ida. Idalah yang menjadi mediator alias mak comblang hubungan kami. Aku senang Ida paham kalau sebagai seorang pendatang tanpa sanak saudara di kota besar seperti Bandung, aku butuh seseorang untuk dicintai. Seorang wanita yang mampu menyejukkan kesendirianku yang jauh dari keluarga. Ida yang baik mengenalkan aku pada Rosa, seorang perempuan yang lembut . Entah kenapa dia begitu senang aku dan Rosa punya hubungan khusus. Ida berkilah kalau ia ingin agar sobat dekat yang selalu dipanggilnya kakak itu bisa mendapatkan seorang laki-laki yang baik, tidak seperti mantan pacarnya yang brengsek dulu.
“Hehehe…masak aku lebih baik sih ?”Suatu kali aku bertanya
“Yah seenggaknya abang tidak begajulan kayak exnya Kak Rosa!” Abang juga bisa diandalin sebagai cowok…kalo Ida liat sih Abang cukup setia dan ngga macam-macam.. idaman semua wanita sedunia deh…hehe!”
“Jangan ampe terbang bang!” Sambungnya ketika melihat wajahku yang sumringah.
Kami akhirnya tertawa terbahak-bahak
Sungguh bagiku pribadi kehadiran Ida selalu membawa kebahagiaan di manasaja. Bahkan saat aku mulai letih dengan urusan skripsi yang macet di tengah jalan Saat rasa frustasiku yang meenghimpit ketika para dosen pembimbing kurasakan seperti sengaja memperlambat gerakanku dengan segudang argumen ilmiah mereka. Ida selalu punya waktu untuk memompa semangatku yang kembang kempis. Ia selalu ada cara untuk membuat aku bangkit dan bangkit lagi. .
Lebih kurang enam bulan lamanya hubunganku dan Rosa baik-baik saja sebelum badai itu kemudian datang. . Bermula dari kecurigaanku kalau Rosa punya hubungan dengan Dodi, teman kampusnya Egoku seakan terusik kala teman-teman bilang kalau mereka sering kelihatan jalan berdua. Rosa mengelak dan menyangkal. Ia bilang hubungan mereka cuma teman biasa. Aku yang dibakar cemburu tidak mau terima. Ida yang berusaha menenangkanku , kutampik keras Sejak itu hubungan kami renggang. Rosa kemudian lulus dan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan cargo, jauh di pulau Bali sana dan aku tetap di bandung, melanjutkan sekolah s2.
Bunyi telpon selular di kantong celana seakan menarikku dari lamunan yang panjang. Nomer Ida ada di layarnya.
“Bang, jangan lupa..malam ini ditunggu di kosan yah ? “ Ida merengek seperti memohon.
“Ok …aku usahin yah” Aku ingat janjiku tadi sore
“Harus …mesti ..dan wajib….pokoknya…kaloo ngga awas!” Teriakannya tidak sesadis ancamannya. Malam itu, seperti kisah-kisah cinta di dalam novel, aku berdamai dengan Rosa. Ia minta aku kembali dan aku bersedia.
“Nah…semua jadi kan enak….makanya jangan cemburuan dong….Dodi ngga ada apa-apanya kog dibanding Abang!”Yah kan Kak ?’
Rosa tersipu malu, sambil mencubit perut Ida yang gendut dia tersenyum
“Makasih yah…kamu emang adek ku yang baik.”Suasana menjadi hangat kembali. Semua berkat Ida. Seperti dulu lagi ia menjadi juru damai hubungan kami yang pernah retak.
Siang yang terik. Aku baru pulang dari kampus. Tugas akhir sudah mencapai bab ke 4 dan sebentar lagi aku sidang. Iseng kuputar lagi lagu dari tape recorder. Suara Don Moen terdengar indah memenuhi telinga dan ruangan kamar. Aku suka sekali kaset itu, kaset pemberian Ida kemaren. Apalagi lagunya. Lagu dengan judul You Are My Hiding Place. Suasana menjadi damai sekali .
…..You are my Hiding place…
…You always fill my heart…..
…with song and deliverence……
Entah berapa lama aku hanyut dalam lamunan sampai suara ketukan di pintu membuyarkan. Rosa datang dengan mata sembab berkaca-kaca. Sambil tersedu ia mengabarkan sebuah berita sedih. Semalam Ida harus masuk rumah sakit karena pingsan mendadak. Hasil diagnosis dokter, Ida ternyata mengalami penyempitan pembuluh darah, Adalah menggenaskan dan sungguh disayangkan bahwa selama ini dia tidak pernah menceritakan kelainan jantung bawaannya ini pada kami. Rahasia ini ditutup rapat. Hanya pada adik bungsunya Ani saja dia berterusterang.
“Aku sedih…Ida ngga mau terus terang. Ida cuma bilang kalau dia tidak ingin ngerepotin kita !”terbata-bata pacarku bertutur.
“Padahal aku sudah mengagap dia sebagai adik!”
Aku tertegun pilu. Suara Don Moen makin terasa sendu
…..You are my Hiding place…
…You always fill my heart…..
…with song and deliverence……
…..Whenever I m afraid……..
…I will trust in You………..I will trust in You
Setelah tiga hari menjalani perawatan intensif, dokter memutuskan Ida untuk pulang beristirahat di rumah. Keluarganya datang menjemput ke Bandung, dan kami turut mengantarkannya ke Jakarta. Sampai suatu hari, tepat sebulan setelah Ida pulang. Seharusnya hari itu menjadi hari paling bahagia dalam hidupku. Seharusnya hari itu aku senang ketika aku dinyatakan lulus dari sidang skripsi yang menakutkan. Harusnya demikian, tapi sebaliknya siang itu menjadi siang yang menyedihkan. Hatiku remuk dan tangisku bergemuruh di dada sesaat setelah mebaca sms singkat dari Rosa. Sepotong kalimat yang singkat
”.Ida meninggal subuh tadi, setelah pingsan …kita harus ke jakarta …siang ini “
Koor lagu gereja kini berakhir diantara isak tangis yang mulai redup terdengar di atas tanah pemakaman. Tanah pekuburan merah berbatu-batu. Angin semilir menusuk tulang. Bapak pendeta mulai berkhotbah. Singkat saja. Dari debu kembali ke debu. Sesungguhnya tiada sesuatupun yang kekal di dunia ini. Doa pun dipanjatkan melepas kepergian orang tercinta. Peti perlahan diturunkan ke bawah bumi. Ani sudah tidak pingsan lagi walau tubuhnya masih bergetar oleh segukan. Beberapa teman memegangi si bunsu dari belakang. Para kerabat mendekap Ibunda yang tertunduk letih memandang ke dalam liang.
Angin semakin dingin. Peti kayu mulai tertimbun tanah basah. Para pelayat tertunduk dalam keheningan. Aku tercenung bak patung.
Setelah hari ini, mungkin tak ada lagi senyum ceriamu menghiasi hari. Mungkin tak kan kudengar lagi suaramu yang bening memimpin koor paduan suara anak-anak dan mungkin setelah ini tiada kurasakan derai tawamu ditengah-tengah kebahagiaan kami
Kau lelah membuat kami tertawa tanpa seorang pun tahu kau sedang menangis. Kau mungkin capek menghibur tanpa seorangpun tahu kau lebih pantas dihibur.
Tapi satu yang kupercaya, kerinduanmu itu kini sudah terjawab. Bahwa kau sudah menemukan kedamaian yang sesungguhnya di sana…
Selamat jalan adik dan sobatku tercinta.. Aku tidak akan lupa lagumu itu………lagu indah dari sebuah kaset rekaman yang kau berikan untuk ku…….
Selamat menemukan tempat persembunyianmu…… yang kekal…..………….
…..You are my Hiding place…
…You always fill my heart…..
…with song and deliverence……
…..Whenever I m afraid……..
…I will trust in You………..I will trust in You

.


Mama


MAMA

karya romy


Sandi kecil sungguh tidak menyenangi pelajaran seni suara di sekolahnya. Bocah tampan berusia tujuh tahun yang duduk di kelas tiga sebuah sekolah dasar swasta terkenal ini sebenarnya tergolong sebagai anak cerdas. Sejak TK, ia sudah sering menggondol juara kelas Tapi, entah mengapa setiap kali harus mengikuti pelajaran olah vokal, keringatnya mengalir deras, lututnya gemetaran tak karuan. Sandi sangat ketakutan pada Hari Jumat. Hari dimana dia akan bertemu dengan pelajaran menyebalkan itu. Hari dimana Ibu guru Flora yang galak mengajar depan kelas. Bu guru yang senang mengajar dengan penggaris kayu panjang itu akan menyuruh setiap anak membaca not balok di papan tulis. Bila ada yang tidak bisa, ia tidak akan segan mendaratkan senjata kayu itu di pantat anak-anak.

Sandi benci dengan not balok. Ia tidak mengerti kenapa sekumpulan toge panjang itu harus dipelajari. Otaknya tidak bisa diajak berpikir untuk mengartikan setiap not balok kedalam notasi do re mi. Tidak seperi matematika dan ilmu pengetahuan alam yang lebih masuk akal. Dia lebih suka disuruh mengerjakan 100 soal matematika daripada harus menyanyikan sebaris not balok

“Mama yakin kamu pasti bisa…!” Mamanya selalu punya waktu untuk segala keluhan Sandi. Mereka Cuma tinggal berdua dalm sebuah rumah tua di pinggiran kota. Sejak papanya Sandi meninggal dua tahun yang lalu akibat kompilkasi ginjal dan lever, Ibunya bekerja sebagai seorang guru sekolah taman kanak-kanak.

“Tapi, Sandi malas Ma. Jangankan pelajarannya, melihat Bu Flora saja, Sandi serem !”

Bocah berambut ikal itu menjebikkan mulutnya.

“Yah, kamu harus belajar menyenangi pelajarannya dulu,” Mama membelai pundak Sandi. Anak itu hanya mengeluh panjang , menopangkan dagunya di atas meja belajar.

Buku-buku pelajaran seni suara berserakan begitu saja di atas meja

“Mama juga dulu seperti itu,” Ibu berumur setengah baya ini melanjutkan. “ Mama paling tidak suka dengan Matematika. Bagi Mama itu pelajaran memusingkan. Setiap kali ulangan Matematika, Mama selalu dapat nilai jelek”

Mata Mama menerawang, dan sambil tersenyum perempuan itu melanjutkan. “Tapi Mama berusaha untuk menyenanginya. Mama belajar dan belajar terus. Bertanya pada guru dan juga ikut belajar kelompok” Mama yakin suatu saat mama pasti bisa….

“Trus…jadi bisa ? “ Sandi menyela tak sabar. Kepalanya tengadah, tertarik dengan cerita sang Ibu.

“Yah, walau tidak terlalu bagus dibanding teman-teman, Mama bisa mendapatkan nilai lebih bai

“ Karena itu kamu harus yakin, semuanya akan berhasil, kalau ada tekad dan kerja keras”

Mama tersenyum sembari meletakkan sepiring kue brownis hangat dan secangkie susu

“ Sekarang sayang, kamu cicipin kue Mama dulu baru terusin belajar yah…Mama yakin .kamu pasti bisa!”

Mama berlalu menuju dapur. Sandi masih tercenung dengan kerisauannya

“ Tapi, aku benci dengan Bu Flora…aku benci dengan cara dia mengajar”….Bisik anak itu perlahan. “Mama mungkin dapat guru yang terbaik, tapi aku….Aku….”Sandi melamun lagi

Cukup lama bocah pendiam itu tercenung sambil mengunyah brownis bikinan Mama. Akhirnya Sandi membuka tas, membuka buku matematika, kesukaannya. Ia menyingkirkan semua buku seni suara, dan mulai tenggelam dalam pelajaran berhitung,

Hari Jumat yang ditakutipun datang. Sedari pagi Sandi masih bermalasan di tempat tidur .

“Sandi, udah jam enam !”Suara Mama yang lembut membujuk dia. “Mandi ya sayang, nanti kamu terlambat”

“Ya, Mam, sebentar lagi” Sandi berjalan gontai dari tempat tidur. Langkahnya seakan berat menuju kamar mandi. Mama tersenyum memberikan sehelai handuk.

Ayo dong…kamu kan sudah gede…semangat yah belajar

Sandi mengangguk pelan tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia kesal membayangkan hari itu. Baginya hari Jumat hari yang berat luar biasa.

Menit-menit akhir pelajaran Bahasa Indonesia pagi itu adalah menit-menit menakutkan buat sang bocah karena setelah ini, pelajaran yang paling dibencinya akan dimulai.. Pagi itu. Bu Flora kelihatan lebih menyeramkan. Wanita setengah tua berwajah judes dengan alis mata yang hampir menyatu itu semenit kemudian sudah berdiri di depan pintu kelas.

“Anak-anak, Ibu harap hari ini kalian sudah lebih paham dengan pelajaran not balok kemaren” Ia melangkah ke tengah. Matanya menyapu seluruh ruangan.

Anak-anak terdiam, apalagi Sandi. Dia seperti kehilangan degup jantungnya.

“Untuk kesekian kali Ibu akan coba daya ingat kalian satu persatu”

Bu Flora beranjak menuju papan tulis dengan rol besar di tangannya. Dengan cekatan ia mulai menulis sekumpulan not balok. Satu-persatu murid-murid dipanggil untuk menjajal kemampuan. Banyak yang berhasil dan kini giliran Sandi

Lutut Sandi seakan bergetar saat namanya disebut.

Bocah kecil ini hanya bisa berdiri mematung di depan. Matanya kosong. Otaknya buntu. Ia sungguh tidak bisa mengartikan not balok toge itu.

Ketika Bu Flora mendekat, keringatnya makin bercucuran. Ia yakin sebentar lagi rol kayu besar akan menghajar pantatnya

“Sekali lagi kamu tidak tahu ! Kenapa dengan kamu, Sand?” Bu Flora, wanita pemarah itu menghardik. “Kenapa tidak seperti teman-temanmu yang lain, mereka bisa!”

“Saya bosan dengan kamu. Plak…plak…plak !”Tiga kali penggaris bu Flora mendarat

Sandi membisu. Kepalanya tertunduk dalam. Sakit di pantanya tak sebanding dengan rasa malu.

“Sekarang coba katakan pada saya, di depan teman-temanmu, kenapa kamu tidak bisa menguasai not balok ?” Suara Ibu guru meninggi.

Sandi bingung. Teman-temannya menatap dari semua penjuru,ingin tahu.Antara sadar dan tidak, diujung ketakutannya dia spontan berujar lirih

“Mama…mama saya tidak meyukai saya belajar seni suara!” Sandi merasa dia pembual besar. Dia yakin dia berbohong, tapi dia malu

“Ohhh…begitu yah….baik…kalau begitu besok ibu minta mamamu besok ke sekolah!”Bu Flora menyelidik. “ Sebaiknya kamu tidak berbohong…karena itu akan mempersulit kamu nanti !”

Sandi mulai menyesali ucapannya tadi. Ia bingung menjawab.Apalagi saat istirahat, Raymond, sobat dekatnya datang mendekat.

“Harusnya tadi kamu bilang aja belum belajar jadi nggak bisa baca not. Jangan bilang karena orangtua, nanti jadi kacau!”

Sandi jadi takut. Bagaimana nanti kalau Bu Flora tahu dia berbohong. Saking bingungnya bekal makanan dari mama tidak sanggup dihabiskan.

Siang itu, Sandi menangis dalam pelukan mamanya..

“Yah…Mama diminta Bu Flora datang ke sekolah” Terbata-bata bocah itu berujar “Bu guru ingin bicara …tentang pelajaran seni suara!”

Rasa takut akan kebohongannya sendiri membuat bocah kecil itu tidak mampu berterusterang sepenuhnya

“Bu guru tanya kenapa Sandi ….tidak bisa baca not ……Sandi bingung!”

“Sudahlah sayang, biar mama yang ngomong dengan bu gurumu nanti. Perkataan mama yang lembut itu seperti air yang menyiram api di dalam hatinya. Mamanya yang gemuk membelai kepalanya.

Ia ingin melanjutkan omongannya tapi ia tak kuasa. Lidahnya kelu. Ia malu menceritakan kebohongannya sendiri. Takut Mama marah. Yah, Sandi merasa menjadi orang paling jahat di dunia

Satu minggu telah lewat. Hari Jumat yang ditakutipun datang. Ibu Flora dengan pelajaran not baloknya sudah beridir di depan kelas. Anak-anak satu-persatu maju. Sekarang Giliran Sandi, dan ia tetap tidak bisa.

“Kamu jangan bilang lagi semuanya ini karena mamamu melarang kamu belajar seni suara ya !” Ibu Flora sudah berdiri di samping dengan angker.”Ibu sudah ngomong dengan mamamu dan ia tidak bicara begitu! Kamu tidak jujur!” Sekali lagi penggaris kayu mendarat keras.Sandi sangat malu. Kepalanya hanya bisa tunduk.Dia merasa semua mata sinis tertuju padanya. Teman-teman pasti sudah tidak percaya lagi. Teman-teman pasti sudah tidak mau berteman lagi. Dia pasti akan dikucilkan, semua akan menghinanya.

Hari itu hari paling memalukan dalam hidup Sandi Ia tak kuat menahan tangis. Tangis itu terus dibawanya pulang. Derai air mata membasahi jalan yang dilaluinya menuju rumah.

“Apa aku sanggup menjumpai Mama….aku sudah berdosa padanya…..Mama pasti marah karena aku sudah bohong.”

Langkah bocah kecil ini terhenti beberapa meter dari pagar rumah. Ia ragu bertemu dengan Mamanya. Mama yang baik

Ia tercenung di depan pagar. Diantara segukan tangis, Sandi putuskan untuk tidak masuk. Ia berbalik.

“Sandi…Sini sayang!” Lapat-lapat ia mendengar suara itu dari arah teras rumah. Suara yang sangat dirindukannya. Mama berlari menghampiri.Tangan Mama yang lembut menyentuh pundaknya,memaksa dia untuk berhenti.

“Mama sudah mengerti semuanya …” Hanya itu yah dan hanya itu yang diucapkan sang mama. Tapi itu cukup untuk Sandi. Mamanya memeluk dia di depan rumah mereka. Pelukan Mama sudah cukup untuk semuanya. Hatinya yang terluka sudah terobati.

Sejak hari itu, Sandi kecil mulai tekun belajar not balok. Sandi yakin dia mau belajar bukan karena suara judes Ibu Flora. Buka pula karena tatapan sinis teman-teman. Ia melakukan semuanya karena ia sayang mama. Ia akan berhasil bukan karena didikan Bu Flora. Bukan pula karena takut pada penggaris sang guru, tapi karena Mama. Karena pelukan Mama yang selalu hangat menyambutnya . Dekapan Mama yang selalu menentramkan hatinya. Ia tidak ingin melukai hati Mama lagi. Tidak lagi.

Takut


Karya : Romy


Pukul 9 malam lewat, ketika aku bergegas melangkahkan kaki meninggalkan rumah Wati, pacarku. Obrolan sepanjang sore diselingi suguhan kue yang nikmat dari pujaan hati berhasil membuatku lupa akan waktu . Malam ternyata telah merambat kelam.“Ahh… cinta memang membuat orang lupa segalanya ,”pikirku dalam hati
“Sialll…!” teriakku takkala cipratan air kotor mampir di muka dan baju . Lamunan panjang spontan buyar akibat ulah sebuah corolla hitam yang memacu gasnya melewati genangan air di pinggir jalan.. “Huuuh!”Untung hanya sedikit!” . Seakan tak perduli pada korbannya, mobil itu terus saja melaju dengan kencang . Entah setan mana yang merasuki pengemudi mobil itu.
Sembari menjentikkan sisa air yang melekat di wajah, kupercepat langkah kaki menuju persimpangan jalan dimana biasanya para pejalan kaki menghentikan bis. Bis ekonomi jurusan Sudirman – Grogol yang ditunggu tak lama muncul juga . Tanpa menunggu bis tua yang penuh sesak itu betul-betul berhenti, aku meloncat masuk…”Semoga masih ada bangku yang kosong “ harapku . Dugaan yang salah besar. Bis tua yang dari kondisi fisiknya cukup layak untuk dimuseumkan itu ternyata sarat oleh penumpang yang berjejalan tak menentu. Para penumpang yang sebagian besar pulang dari tempat bekerja masing-masing tampak bergelantungan di sepanjang lorong , kelelahan. Jangankan untuk mendapatkan tempat duduk, untuk berdiri saja sudah repot. Aroma tubuh yang beraneka ragam kucoba tepiskan untuk merangsek masuk mencari posisi yang mungkin kosong , dan sykurlah masih ada bagian tengah yang kosong.
“ Tenang mas, ntar di depan dekat pasar, banyak yang turun kok ! “ bisik seorang lelaki tua yang berdiri di sampingku. Ia tersenyum yakin dengan perkataannya. “Di pasar depan …bisnya mutar balik soalnya.” Sambungnya
Limbung akibat sarat oleh jejalan penumpang, bis melaju kencang.
“Si sopir pasti sudah ahli mengemudikan kendaraan tua tentunya, mustahil rasanya bagi orang biasa untuk memacu bis di jalan besar dengan kondisi mesin yang sudah uzur seperti ini,” gumamku sambil berpegang kencang pada pipa besi .
Benar saja tepat di persimpangan jalan pasar rebo,bis berhenti pelan. Pak sopir berteriak dengan keras…” Yah.. yang..pasar rebo…pasar rebo !”… samar-samar dari keremangan lampu bis, tampak wajahnya yang hitam berkumis tebal mengingatkanku pada tipikal tokoh penjahat yang sering tampil dalam sinetron-sinetron televisi..Para penumpang turun satu persatu . Orang-orang yang tadi bergantungan berkurang satu persatu , sampai akhirnya benar-benar kosong . Kini yang tinggal hanya aku sendiri bersama seorang kondektur dan sopir yang bertampang seram itu.
“Kemana mas ?” Tanya si sopir dingin
“Ke Komdak lagi kan pak ? “ sahutku acuh.
“Yah…..!”Sahutnya kasar dengan muka tetap ke depan. Bis kembali melaju.Kali ini hanya membawa satu orang penumpang, yaitu aku. Sementara malam semakin merambat pekat , jarum jam sekarang menunjuk pada pukul 10 malam.
Aku merasa aneh sendirian berada di dalam bis itu., bersama seorang sopir yang kasar dan seorang kondektur yang dari tadi berdiri terpaku di dekat pintu depan. Bis tua itu kembali menderu dengan suara parau kala dipacu dengan kencangnya memasuki jalan tol. Aku duduk persis di belakang punggung sopir yang kini diam seribu bahasa.
“ Orang ini besar sekali , badannya yang gemuk membuat dia lebih pantas menjadi pegulat atau petinju saja, “pikirku.
Lampu di dalam bis yang kini sudah dipadamkan semua membuat keadaan menjadi remang-remang .Yang tampak hanya lampu-lampu di pinggir jalan, seperti berlari-lari meninggalkan kami.
Mendadak aku bergidik, perasaan seram sekonyong-konyong mulai menghantui benakku. Bagaimana kalau mereka berencana jahat terhadap aku ? Bagaimana jika mereka tiba-tiba ingin merampokku ? Bagaimana jika setan jahat melintas di benak mereka ?
Aku hanya sendirian ditengah orang-orang asing ini. Apa saja bisa mereka lakukan terhadapku.
Semuanya bisa mereka perbuat jika mereka mau.
Si kondektur yang dari tadi diam saja perlahan beringsut mendekati sopir bis itu
Mereka tampak berbisik di keremangan cahaya lampu bis . Tidak jelas apa yang diomongkan, sesekali si kenek itu menoleh-noleh ke arahku ..
“Aduuuh, matilah aku . Dugaanku pasti benar,”
Aku mulai gemetar di bangku. Kakiku terasa beku susah digerakkan seperti ada berton es menjalari seluruh jemari.
Ingatanku tentang banyaknya berita krimnal di Koran yang sering terjadi di kota besar membuat aku bergidik ketakutan.. Tas kudekap lebih erat, jam tangan yang bisa saja menjadi pemicu kejahatan, kumasukkan ke dalam saku celana, aku harus atasi rasa takut ini. Tapi mampukah ?
“ Enak yah Bang? “ Desis si kondektur yang tiba-tiba sudah bergerak ke sisiku.
“ Enak apanya?” Sahutku dengan suara diberatkan , sengaja, semoga dia akan menjadi segan dan tidak akan bertindak lebih jauh lagi.
“ Yah..enak…dong…situ kan jadi seperti naik mobil sendiri….disopirin! “ tak mau kalah ketus dia menjawab…Matanya yang liar mulai mengawasiku dari atas sampai bawah , berkilat mencorong di bawah suramnya lampu bis. Mata bengis itu kini bergerak pelan kearah ransel di tanganku ,seakan ingin mengetahui isinya..
“Mati aku !” batinku bergidik. Mau kabur melompat tidak mungkin, bis melaju sangat kencang dijalan bebas hambatan itu .Bakal mati konyol namanya jika aku nekad . Habislah aku …habis sudah nasibku
Aroma alkohol yang memuakkan tercium dari mulutnya manakala mukanya yang berjambang maju mendekat. Seringai tajam menyungging dari bibirnyanya yang hitam. Sekelebat tampak kilatan cahaya dari balik tangan si kenek. Kilatan itu seperti sebuah benda tajam.Itu pasti…pasti sebuah pisau.
Aku tak dapat berpikir lagi. Tidak tahu harus berbuat apa, melawan mereka sama dengan menyerahkan tenggorokan sendiri. Mati konyol. Preman terminal ini pasti tidak akan segan-segan bermain dengan nyawa korbannya. Aduhh Tuhan bagaimana sekarang?
Pasti sebentar lagi benda laknat itu akan ada di tenggorokanku. Pasti sebentar lagi aku sudah tak bernyawa lagi dan pastilah setelah puas menguras dompetku mereka akan melemparkan mayatku begitu saja di tengah jalan…dan pasti besok namaku akan tertera di koran – koran dan tabloid ibukota …. tentang seorang pria yang ditemukan tewas terbuang di pinggir jalan,
Keluargaku dan Wati, pacarku akan menagisi kepergianku yang begitu cepat…dan…dan…
Ohhh Tuhan..aku tidak mau itu semua terjadi.Rasa takut sudah sepenuhnya menguasai otak dan nalarku.Aku tidak dapat berpikir lurus lagi.
Satu-satunya jalan aku harus lari….aku harus lompat , bagaimanapun caranya aku harus kumpulkan semua kekuatan untuk melompat dari bis jahanam ini
Detik-detik yang menegangkan, saat wajahnya yang buas semakin dekat ke arahku, kukerahkan semua tenagaku, dorong badan si brengsek itu…!.
Ia terjungkal keras ke belakang. Dengan limbung ia berusaha bangkit
Ahhh…. Inilah kesempatan yang baik …ini kesempatan yang sangat tepat untuk kabur.
Aku berlari sekencang mungkin ke arah pintu depan, bis tua masih melaju dengan kencang…
aku begitu takut tapi aku harus loncat…loncat dan loncat…sampai aku bebas..bebas.
Esok hari Koran pagi memuat sebuah berita tentang seorang pria yang nekad meloncat dari sebuah bis dan mati terlindas oleh sebuah truk container yang melaju kencang tepat di belakang. Menurut wawancara dengan sopir bis yang bersangkutan, korban mendadak meloncat dari bis sesaat setelah sang kondektur ingin menagih ongkos bayaran.

cerita seorang penulis



CERITA SEORANG PENULIS


Karya : Romy





Tiba-tiba aku tersadar kalau aku punya bakat untuk menulis. Senang sekali rasanya berlama-lama di depan komputer, mencurahkan semua ide di dalam kepala ditemani secangkir kopi manis. Bakat terpendam yang kuyakin telah berakar sejak kecil tetapi baru tergali sekarang ini sampai-sampai bahkan telah mengalahkan loyalitasku sebagai karyawan sebuah perusahaan asuransi. Aku rela memutuskan untuk keluar dari perusahaan yang kuanggap tidak berprospek cerah dan banting setir menjadi seorang penulis full-time. Bicara tentang bidang seni sebenarnya bukanlah barang baru buatku. Sejak duduk di bangku TK, sejumlah penghargaan di bidang seni pernah kuraih. Aku pernah menjadi juara pertama melukis se-TK di kotaku. Di Sekolah Dasar, saat anak-anak seumurku masih bermain petak umpet, aku sudah sibuk ikut lomba mengarang. Tepuk tangan dan pujian kagum akan selalu ada setiap kali aku tampil di depan kelas, membacakan puisi ataupun melakoni seorang tokoh dalam pelajaran drama. Aku tidak mengerti kenapa saat SMA, semua kemampuan itu seakan lenyap ditelan bumi. Konsentrasiku penuh hanya pada pelajaran sekolah dan buku-buku teks yang seakan-akan tidak pernah habis dibaca. Tiada hari tanpa belajar dan tiada waktu untuk seni. Otakku saat itu hanya terobsesi untuk satu tujuan, memenuhi harapan orang tua untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terkenal.
Sekarang setelah bekerja dan menikah dengan Elisabeth, yang kukenal saat kuliah dulu, tiba-tiba nuraniku berontak. Kerinduan untuk kembali menekuni dunia yang pernah kukenal itu kembali terkuak. Mulanya aku mencoba bertahan pada pekerjaan di kantor yang penuh dengan rutinitas dan tekanan dari atasan. Setahun dua tahun kulalui dengan berhemat dan menabung habis-habisan, namun setelah menikah dan punya anak, persoalan menjadi lain. Gaji yang pas pasan dengan status yang tidak jelas sebagai staff kontrak (maklum sekarang budayanya orang bekerja under agency bukan under company) membuat hatiku ketar-ketir. Kuatir dipecat karena kebijakan management atau kuatir dipensiunkan karena perusahaan tak sanggup lagi mendonor gaji. Faktor lain yang juga mendorong keputusanku adalah aku sadar betul siapa diriku. Sebagai seorang melankholik introvert, aku lebih senang mengurung diri untuk menulis atau melukis di rumah daripada harus bekerja keras setiap hari memenuhi target perusahaan dengan penampilan yang harus selalu necis. Ratusan lamaran yang kusebar ke berbagai perusahaan dengan berlandaskan ilmu dari perkuliahan dan pengalaman kerja, tampaknya hanya bertepuk sebelah tangan.
Adalah satu kentungan, istriku punya pekerjaan dan jabatan yang sangat bagus. Sebagai seorang supervisor sebuah perusahaan advertising, ia memang seorang wanita yang dilahirkan untuk berkarir. Seorang wanita leader yang lebih pantas memimpin agenda rapat di kantor dan meeting dengan klien ketimbang harus berepot ria di dapur mempersiapkan makan siang dan membanting tulang memeras cucian.Walaupun begitu Elisabeth, tentunya sangat menopang kehidupan kami dan si kecil Dewi.
Istriku adalah orang pertama yang sangat menentang keputusanku untuk fokus menjadi seorang penulis. Ia marah besar begitu tahu aku berhenti bekerja untuk memenuhi impian dunia seniku.
“Tenang, Beth …aku tahu apa yang kulakukan,” Jelasku dingin
“Tenang bagaimana, Mas juga ingat dong mana ada orang bisa mengandalkan hidup dari hasil tulisan!”
“Lho, kan banyak juga pengarang yang bisa terkenal dan hidup makmur!“Aku siap berdebat
“Yah itu kan cuman satu dari sekian banyak orang yang sukses”
“Aku yakin aku bakal sukses!”
“Tapi, pekerjaan seperti itu serba tidak pasti…yah kalo dimuat di koran, dapat duit. Kalo tidak bagaimana?”jawab istriku tidak mau kalah
“Lain hal dengan pegawai, setiap bulannya jelas pasti mendapatkan gaji, walaupun kecil” Sambungnya.
“Aku tidak mau tahu!, tekadku sudah bulat!” Tanganku menggebrak meja. Aku tidak mau diatur oleh siapapun, apalagi istriku.
Sejak saat itu kami sering bertengkar, tetapi aku tetap menulis. Tulisan yang bakal menjadi novel pertamaku.
Entah kenapa tulisan pertamaku terinspirasi sekali dengan keadaan yang sedang kuhadapi. Si tokoh utama kuberi nama Roy. Kuceritakan Roy telah memutuskan untuk beralih dari pekerjaan kantoran ke dunia seni karena tututan nurani nya sendiri.
Roy merasa tertekan dalam pekerjaannya dan memutuskan untuk berhenti karena gaji yang dia terima tidak cukup untuk membiayai keluarganya. Istrinya, Ella seorang manager yang berpenghasilan lebih baik, tidak setuju dengan pendirian suaminya. Dalam tulisan itu, Ella kugambarkan sebagai sosok yang sangat dominan, type seorang yang suka mengatur, persis sama dengan karakter Elisabeth, istriku.
Kuceritakan juga bagaimana usaha Roy untuk berjuang meyakinkan istrinya, demi sebuah kepercayaan dan dukungan. Setiap hari, rumah tangga mereka diwarnai pertengkaran yang tak kunjung ada penyelesaiannya. Ella merasa suaminya hanya bermalas-malas sementara dia harus bersusah payah. Roy merasa istrinya tidak menghormati dirinya lagi karena dia tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga.
Seminggu, dua minggu, tiga minggu, sebulan, dua bulan, tiga bulan sudah aku sibuk mengetik. Setiap hari sehabis bangun tidur, aku akan duduk di depan monitor, menyeruput kopi yang kuracik sendiri, untuk kemudian memainkan jemari di tombol keyboard. Pertengkaran dengan Elisabeth pun semakin sering terjadi. Selalu begitu, tidak ada kata absen untuk hal yang satu ini.
“Mas, aku berangkat!” Teriak Elisabeth suatu pagi. Hari itu hari pertama dia dipromosikan menjadi Manager Marketing di perusahaannya. Prestasi yang luar biasa tentunya.
“Yah udah….hati-hati!” Kuseruput kopi tak peduli. Mataku terus menatap monitor. Karirku sepertinya tak ada apa-apanya dibanding dia. Pekerjaanya mulus ibarat jalan tol,
“Kenapa sih kamu lebih peduli dengan tulisanmu daripada istri dan anakmu!” ternyata dia masih belum beranjak
Aku diam, sedang tidak mood untuk bertengkar.
“Apa sih yang kamu harapkan dari novelmu itu?” Ada kesan pongah di dalam nada suaranya.
“Sampai sekarang tidak ada hasilnya….mending Mas cari kerjaan tetap lagi!”
“Aku sudah bilang aku tidak berbakat menjadi karyawan ….aku lebih cocok seperti ini!” ujarku emosi. Aku merasakan egoku sebagai seorang kepala keluarga terusik.
“Ahhh...aku nggak percaya…!”
“Aku juga kadang-kadang bosan dengan kerjaanku, tapi aku coba menikmatinya…dan buktinya aku berhasil.Orang lain juga bisa, cuma Mas aja yang langsung menyerah!”
Aku diam. Kubiarkan dia berkicau.” Tunggu saja nanti, kamu akan lihat keberhasilanku“ tekadku dalam hati.
Aku mulai mengetik lagi, menuliskan ide-ide yang ada dalam otakku.
……”Setiap hari Roy semakin tertekan dengan komentar istrinya, tapi ia berjuang terus untuk membuktikan pada semua orang kalau seorang seniman juga bisa punya uang banyak……
Setiap hari, sejak kokok ayam pertama sampai surya terbenam. Roy selalu berada di depan komputernya, mencurahkan semua bakat demi satu idealisme tersendiri….” demikian aku terus melanjutkan menulis.
Hari demi hari aku semakin terbawa oleh sosok Roy, yang kuciptakan sendiri dalam novel. Sepertinya tokoh Roy betul-betul perwujudan dari diriku yang sebenarnya, seorang seniman sejati bertemperamen keras. Seorang lelaki yang tidak mau kompromi di bawah ketiak istri. Seorang pria yang tengah menuju kesuksesan besar meski semua orang menentangnya.
Enam bulan lamanya aku seperti kesetanan. Puluhan lembar kertas sudah habis menjadi wadah gagasanku. Tujuanku hanya satu, secepatnya menyelesaikan karya pertamaku ini, biar istriku dan semua orang tahu bahwa aku adalah pengarang besar dengan bakat luar biasa.
Aku makin tidak perduli dengan omelan Elisabeth. Tidak perduli lagi kalau dia makin sering pulang malam dari kantornya. Mungkin dia sudah bosan dan mulai melirik laki-laki lain, aku tak ambil pusing. Atau mungkin sebagai bos besar sekarang dia sudah lupa pada kodratnya, pada anak dan suaminya yang lapar. Terserah! Aku tidak perduli. Tidak perduli juga pada rengekan Dewi di kamar yang minta ditemani bermain.
Sampai suatu malam, di bulan keenam saat kepalaku terasa berat dan otakku kehabisan kata-kata untuk mengakiri novel pertamaku tentang Roy, dari balik tirai jendela aku melihat Elisabeth turun dari sebuah mobil. Sudah lewat tengah malam dan dia baru pulang kerja? Aku baru tersadar.
Seorang laki-laki turun dan membukakan pintu untuknya. Mereka kelihatan mesra sekali dibawah sinar bulan yang suram. Aku merasa seperti dinjak-injak.
Elisabeth masuk, mengambil minuman dan lantas menghampiriku. Aku sudah siap.
“Aku sudah bosan dengan ini semua!” Dia berdiri dengan muka merah
“Ada apa?” Kucoba menahan amarah. Jemariku masih diatas keyboard.
“Ada apa? hanya itu yang bisa kamu ucapkan?”
“Lihat, kita seperti bukan sebuah keluarga lagi” dia mencoba memancing amarahku
Sepertinya pertengkaran makin memanas.
“Kenapa kamu tidak bersabar dulu, beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku bisa membahagiakan kalian?”
“Kesempatan apa? Sudah enam bulan kamu menjadi gembel di depan komputer ini! Mana hasilnya? Belum satupun karyamu yang memberi hasil!“
Aku menggeram. “Lalu?”
“Sementara aku banting tulang di kantor mencari makan buat memenuhi kebutuhan keluarga dan Dewi anak kita…kamu cuma duduk-duduk…belagak sibuk dengan khayalan dan ide-ide brilianmu”
“Banting tulang atau bersama laki-laki lain maksudmu?” Emosiku tak terbendung lagi. Aku jelas-jelas tadi melihat istriku bercumbu dengan laki-laki itu sebelum masuk ke rumah.
“Laki-laki mana?…Jangan mengada-ada! Rupanya kelamaan bergaul dengan komputer rongsokan membuat otakmu jadi ngawur!” “Pokoknya mulai sekarang, aku nggak mau lihat Mas menulis lagi. Titik!” Wajah istriku merah penuh amarah.
Aku gemetar di kursi. Keringat dingin dan amarah bercampur jadi satu.
“Diam!” Tanpa sadar aku sudah berdiri dan tanganku mendarat di pipinya dengan keras
Elisabeth menjerit. Matanya melotot menatapku, tapi anehnya aku tidak merasa menyesal atas tindakanku.
Sambil memegangi pipinya, dia berlari menuju lemari, mengeluakan koper dan mulai mengisinya dengan baju.
“Aku mau bawa Dewi ke rumah mama, sekarang juga!” Teriaknya histeris
“Tidak bisa!” Emosiku sudah tak terkendali lagi
“Kamu mau bawa Dewi pada laki-laki itu kan?“desisku “Tidak bisa!”
Aku tarik bahunya. Kudorong sekuat tenaga hingga kepalanya membentur dinding dengan keras. Tubuh Elisabeth menggelepar sejenak untuk sedetik kemudian terkulai lemas di lantai kamar. Aku terpana. Kuangkat tubuh istriku, kepalanya bersimbah darah. Aku bawa dia ke kamar tidur kami dan aku baringkan di atas ranjang, seakan tidak terjadi apa-apa.
Gontai, aku melangkah menuju meja kerja. Sepertinya aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku mulai mengetik
“…..Roy semakin tidak tahan dengan omelan istrinya yang terang-terangan ingin dia berhenti menulis. Suatu hari saat mereka bertengkar hebat, Roy mendorong istrinya dengan keras. Kepalanya membentur tembok dan ia mati seketika. Roy yakin ia sudah melakukan tindakan yang tepat demi untuk mencegah istrinya yang cantik itu berselingkuh dengan pria lain….”
Aku tersenyum menatap layar monitor. Kuangkat tanganku dari tombol keyboard.
Akhirnya setelah penantian selama enam bulan, malam ini aku berhasil mendapatkan sebuah ending yang bagus untuk mengakhiri novel pertamaku.