Kecelakaan


KECELAKAAN

Karya : Romy



Sontak, aku terhenyak , terbangun dari pingsanku, saat tangan kekar seorang pria menepuk pundakku perlahan. Mataku nanar, ratusan bintang seakan berputar di atas kepala. Aku paksakan otak untuk mengumpulkan kembali ingatan yang seakan hilang,
“Mas…bangun….ayo!” Tukasnya tegas
Limbung kupaksa badan untuk bergerak. Sakit sekali. Mataku mencoba mencari asal suara itu. Aku seperti hidup kembali dari mimpi panjang. Aku gemetar.
Kucoba mengangkat wajah melihat keadaan sekitar, sementara otakku berusaha mengingat kembali apa yang telah terjadi
“Yah…lihat…. kamu baru saja nabrak orang…!” laki-laki berseragam pasti seorang polisi tapi Kenapa dia ada di sampingku?
Dan kenapa pula aku tiba-tiba ada di pinggir trotoar ini ?
“Kamu sudah sadar?” mataku semakin jelas melihat sosok di depan. Pria berseragam dengan helm dan kacamatanya .
Dia memang seorang polisi .Kudukku merinding, Mati aku…apa yang sudah kulakukan? limbung aku berusaha bangkit. Sinar matahari redup menerpa mukaku. Jalan raya yang tetap ramai di sore hari. Lampu lalu lintas dan kendaraan yang hilir mudik.
“Baru nabrak orang.?” Gumamku kelu “Mati kah ? “
Perlahan semuanya semakin jelas. Ingatan mulai pulih. Yah…tadi , mungkin sejam yang lalu. Aku masih mengendarai sepedamotor dalam rangka tugas kantor. Aku dan teman-temanku Tapi dimana mereka…? Aku seorang diri disini, tidak ada yang lain.
Lapat-lapat kuingat rentetan kejadian hari ini. Sebagai seorang marketing leader dari sebuah perusahaan minuman, setiap sore setelah seharian survei ke semua outlet distributor , aku dan teman-teman akan pulang ke kantor kami. Pulang untuk review semua kegiatan hari itu pada Bapak Baharudin, manager area tempatku bekerja. Yah, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang consumer good terkenal di Kota Kembang, Bandung. Ini wajib dilakukan, jika tidak laki-laki pendek gendut yang galak itu akan marah besar. Seperti biasa aku akan meminta teamku untuk tancap gas duluan ke kantor, sementara aku akan berjalan santai di belakang mereka sambil menikmati udara sore yang sejuk. Anehnya hari itu aku terbuai dalam kantuk. Kantuk berat setelah seharian lelah bekerja . Aku ingat saat akan melewati lampu merah di perempatan jalan besar , kesadaranku hilang. Otakku serasa diawang-awang. Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi
“Tadi kamu sempat pingsan setelah nabrak orang yang naik sepeda “ Pak polisi melanjutkan.
“Kamu terlempar dari motor lalu jatuh ke tanah…makanya pingsan…dan oh ya helmmu juga hancur!”
Aku meraba benda pelindung kepala itu. Bagian dagunya hancur dan atasnya retak terbelah dua. Untung tadi siang aku sempat meminjam helm ini dari Herman, teman leader lain . Ia kebetulan hari itu tidak bertugas keluar. Jika aku menggunakan helm sendiri tentu lain perkara. Aku pasti sudah tewas. Helm murahanku hanya mampu menutup bagian atas kepala, tidak memproteksi bagian lain. Bila aku jatuh terlempar seperti tadi, daguku bisa hancur total dan mungkin tidak bisa lagi menghirup udara dingin ini Aku bergidik.
Sambil tak henti-hentinya bersyukur pada Tuhan dan pada helm penyelamat,aku mendekati mang tukang sepeda yang terduduk lemas
Ia meringis kesakitan. Lutut kakinya berdarah. Syukurlah ia tidak apa-apa, cuman luka-luka kecil saja. Roda belakang sepedanya bengkok. Aku berjanji akan mengganti semua biaya pengobatan dan perbaikan sepeda si mang
Setelah menelpon keluarga dari wartel pinggir jalan untuk bilang keadaanku, aku diangkut ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Motorku dinaikkan ke bak belakang . Lampu depan pecah dan stang nya bengkok. Segala tetek bengek pemeriksaan yang berbuntut dengan ditahannya SIM kulalui dengan perasaan campur aduk. Bagaimana kalau Pak Baharudin tahu ini ? Dia pasti akan marah besar.. Keluargaku menjemput dan mengantarkanku ke rumah sakit terdekat untuk pengobatan. Tabrakan itu meski tidak parah, cukup meninggalkan bekas berupa tulang dagu yang membengkak
Pak Baharudin, ternyata tidak ambil pusing saat besok paginya aku menghadap pria berkepala plontos itu di ruang kerjanya
“Makanya kamu jangan ngantuk waktu naik motor !” Pak Bahar menyeringai Senyum seringai yang penuh ejekan khas miliknya itu
“Untung orang yang ketabrak cuman luka doang…coba kalo mati …. bisa repot urusan!”
Dia, menghembuskan asap rokok Jarum Supernya kuat-kuat ke langit-langit kantor.
Tatapannya tajam tertuju padaku. Aku seperti tersangka di kursi pesakitan..
“Dulu, waktu masih pakai motor seperti kalian, tidak ada dikamusku untuk pernah nabrak orang!” Dia mulai bercerita
“Saya malah sering bertugas keluar kota, untuk survei distributor kita .Tanyakan pada semua manager disini, wilayah Jawa mana yang belum pernah si Bahar kunjungi?” “Cirebon, Garut , Tasik bahkan sampe ke ujung pulau” Dia memang type bos yang arogan
“Saya sama sekali tidak pernah terlibat kasus seperti kamu, Toni ! . Kuncinya ada pada konsentrasi …konsentrasi pada pekerjaan …. Hasilnya kamu lihat sendiri… karir saya melesat …..!”
“Bukan sombong, “ tandasnya lagi “Kamu bisa lihat saya sudah bisa menikmatinya ….!” Tangannya menunjuk-nunjuk sebuah mobil Panther yang diparkir di pelataran bawah
Pak Bahar selalu membanggakan mobil Panther biru nya itu.
“Yah, Pak.” Ucapku lirih. Kepalaku tetap tertunduk
“Makanya lain kali kamu itu mesti konsentrasi !” “ Konsentrasi !”
Herman temanku yang kemaren berjasa besar dengan helmnya, menghampiriku saat keluar ruangan
“Sudahlah Ton, bapak orangnya memang begitu, ….yang penting kowe sing selamat ! “ hiburnya
“Tapi gue kesal Man. Dia nggak mau perduli dengan peristiwaku kemaren.”
“Nanya kondisiku juga tidak. Langsung main tegur aja. Emangnya semua orang seperti dia. Manusia super yang tidak kenal sakit, dan tidak kenal capek? “ Aku menggerutu
“ Yah, mungkin beliau cuma ingin memotivasi kamu Ton !”Herman garuk-garuk kepala
“Memotivasi apa, dia hanya orang egois dan angkuh!”Aku mantap dengan jawabanku
“Pokoknya aku makin tidak betah dengan pekerjaan ini !” “ Aku mau cabut !”
“Masak sih kamu mau resign ?” Herman terkejut.
“Kenapa tidak? “ Tak acuh kuraba bekas luka di dagu.….”Nanti kamu lihat sendiri !”
Jauh di dasar hati,.aku begitu terpukul dengan kejadian ini. Bukan hanya soal biaya kecalakaan kemaren tapi lebih utama feelingku berkata pekerjaan ini sungguh penuh resiko. Sedikit lengah atau ngantuk saja, nyawa taruhannya. Sebagai perbandingan untuk cabang perusahaan di kota lain, kamtor pusat memberikan fasilitas mobil untuk transportasi para staf leadernya sementara Aneh bin ajaib kami tidak . Sampai detik ini appaprovement Pak bahar untuk penyediaan mobil kanvas tidak kunjung nongol. Kami tetap harus bertahan dengan sepeda motor untuk turun langsung ke daerah operasi. Pasar, koperasi dan kampung yang jauh sekalipun.Sungguh tidak aman
Ketidakpedulian Pak Bahar terbukti lagi seminggu kemudian. Entah angin apa ia tiba-tiba bermaksud memindahtugaskan aku ke daerah distributor kami, Cirebon. Laki-laki itu berkata kalau rencana penempatanku itu adalah kebijakan managemen sendiri sejak awal Yang bikin hatiku tambah dongkol, dalam tiap kesempatan laki-laki plontos itu selalu mengolok-olok Dia ragu kalau aku bisa survive di Cirebon nantinya.
“Saya kuatir nanti di sana kamu bisa nabrak lagi, tapi sekarang bukan sepeda tapi truk, ha ha ha!” Dia mengakak senang
Aku merasa dilecehkan. Harga diriku seakan diremehkan. Mungkin di matanya aku adalah orang paling teledor di perusahaan. Keinginan untuk segera mengundurkan diripun makin bulat.
Melalui seorang teman, aku menitipkan surat pengunduran diri beberapa hari kemudian. Malas rasanya untuk datang sendiri ke kantor, bertemu dengan Pak Bahar. Paling-paling dia akan marah besar atau mungkin terpingkal-pingkal setengah mati mengejek kepengecutanku Biarlah dia yang baca sendiri tulisanku. Aku bosan. Aku minta teman untuk menitipkan surat pada pak satpam di luar kantor supaya tidak ada pertanyaan macam-macam
Tiga hari setelah pengunduran diri. Hatiku terasa lapang. Rasanya aku lahir kembali sebagai seekor burung yang bebas lepas. Terbang kemanapun suka.
Siang yang panas, aku memacu motor dengan kencang menuju rumah seorang teman . Sebentar lagi aku akan melewati perempatan jalan besar, tempat dimana dua minggu lalu aku mengalami kecelakaan. Sekarang aku belajar berkonsentrasi di jalanan..Lampu lalu lintas di depan masih hijau. Dengan sigap Aku tancap gas sambil memasang mata Aku sukses melewatinya.
Sepuluh meter dari perempatan , sebuah mobil mendadak muncul dari sebuah gang kecil di sisi kiri jalan. Mobil itu seperti kesetanan. Ia melaju kencang dan segera saja menghantam motorku dari kiri. Aku berusaha mengerem tapi terlambat. Tabrakan yang keras melemparkan tubuhku ke samping.
Dalam keadaan setengah sadar, samar-samar aku melihat mobil tadi. Yah mobil panther biru itu seperti kukenal. Dan…dan laki-laki gemuk berkepala plontos yang melongok dari kaca mobil juga sangat kukenal Asap rokok keluar dari mulutnya. Dia tersenyum…..senyum sinis penuh ejekan…..
Mataku gelap, kepalaku berat..aku tak kuat lagi.
Laki-laki itu menaikkan kaca mobil. Suara deru mesinnya terdengar keras. Aku ditinggalkan begitu saja.





No comments:

Post a Comment