Emosi


EMOSI

Karya : Romy



Malam mulai turun memudarkan sore. Perlahan tapi pasti si raja siang terbenam di peraduannya. Gerimis sejak siang tadi mulai menipis meninggalkan titik-titik air membasahi bumi.Aku bergegas melangkahkan kaki menuju kios telepon yang tak jauh dari rumah.Jalanan yang becek membuat aku harus berhati-hati melangkah
Mau tak mau kupaksakan diri untuk menelpon dosen pembimbing malam ini. Rasa kesal yang kian memuncak karena skripsi yang tak kunjung selesai menyatu dengan beceknya tanah yang kulalui. Lebih satu tahun sudah aku bergulat dengan lembaran kertas penentu kelulusanku itu. Banyak waktu yang sudah kuberikan untuk itu semua. Impian untuk segera mengenakan toga wisuda dan menyandang gelar idaman membuat aku seperti gila. Aneh bin ajaib skripsi malah mentok di tengah jalan. Kalo dipikir sebenarnya secara akademis sejak tahun ke empat beban studiku sudah kelar. Cuma karena 6 sks untuk tugas akhir cita-cita harus tertunda oleh idealisme dosen pembimbing
Aku tidak habis pikir apa yang menjadi keinginan pembimbing. Kelar bab satu tentang teori dan masalah, saat kuanggap semua berjalan lancar , sekonyong-konyong beliau meminta untuk meninjau kembali rumusan teori yang semula disetujui. Aku mati-matian memperbaiki. Tak dinyana sekarang pembimbing kedua turun bicara, keberatan. Tak habis pikir, kenapa untuk dua orang dosen dari almamater yang sama punya dua pola pikir yang berbeda. Apa repotnya sih merelakan aku lepas dari kampus, toh skripsi tidak total jadi penentu kesuksesan masa depanku? Aku dongkol dan mumet.
Dengan geram kuhentakkan kaki pada genangan air yang mengotori jalan.
“ Huuuhhh !”
Air yang muncrat membasahi baju semakin membuatku marah. Rasa kesal yang mencekik ubun-ubun meminta kompensasi. Rasanya malam ini aku ingin meyalurkan amarah dengan cara apa saja, memukul, menedang atau apa saja.
Kios telephon yang terletak di belakang kampus kedokteran gigi itu masih dijaga oleh Mang Kohar. Lelaki tua yang sudah bercucu dua itu tampak tetap setia duduk di dalam wartel kecilnya. Hanya sebuah kios yang disekat menjadi 2 bagian, satu untuknya dan satu lagi untuk orang yang akan menggunakan jasa komunikasi .
Sambil mengepulkan asap tembakau dari pipa ia menyapaku,
“Malam mas, nunggu dulu yah. masih ada yang pake “
Tak acuh aku berkata, “ Yah udah!...Aku malas beramahtamah
Kesalku belum hilang juga.
Di dalam bilik telephon, aku melihat seorang pria tampak sedang asyik menelpon. Dia membawa sebuah tas hitam yang di pegang dengan tangan kiri sementara tangan yang satunya memegang gagang telepon. Menaksir usianya, laki-laki ini mungkin berumur 40 an .
Kuhentakkan pantatku di atas bangku panjang, untuk mengantri. Sekarang aku harus menunggu. Pekerjaan yang membosankan, satu hal yang tak berbeda jauh dengan masalahku, skripsi. Satu kata yang memuakkan
“Huuuuhhh, “dengusku lagi
Entah apa yang dibicarakan laki-laki di dalam bilik . Dari tadi, tampak dia begitu serius dengan telpon ditelinganya. Tangan nya sesekali teracung-acung keatas seperti orang yang sedang berdebat tentang sesuatu. Tas hitamnya tetap dipegang erat. Sesekali terdengar dia berteriak keras, entah kenapa.
Tak terasa sudah limabelas menit orang itu ada didalam . Sekarang pengunjung kios telephon sudah bertambah dua orang lagi, namun tak terlihat kemungkinan pria itu akan berhenti. Mang Kohar berkali-kali mengingatkan si lelaki untuk memberikan kesempatan pada yang lain, namun sepertinya sia-sia. Sang lelaki sama sekali tak ambil pusing. Suaranya malah semakin tinggi
Aku sudah tidak sabar lagi. Emosiku yang sedari tadi sudah memuncak makin tidak terbendung meihat keegoisan si pria Apalagi malam semakin larut dan sepertinya tidak ada wartel lain di dekat sini yang masih buka.
“Orang ini pasti gila atau setidaknya sakit…..tidak tau apa banyak orang nunggu”
Tidak punya etika sama sekali,’ desisku dalam hati.
Setengah jam berlalu saat lelaki itu akhirnya keluar. Dia dan tas hitamnya itu
Tak sabar aku memaksa masuk. Kuhempaskan pintu kios sekeras-kerasnya
“Praaakkkkkkk!”Pintu wartel seakan mau pecah.
“Biar dia tau rasa .emang kios ini punya moyangnya !”Aku menggerutu
Aku pengen dia tahu aku juga bisa berbuat serupa. Memang dia saja yang jagoan. Aku juga bisa.
Malam yang menyebalkan . Dosen pembimbing yang terhormat, tidak dapat dihubungi melalui handphone. Aku coba ke rumahnya, pembantu bilang beliau sedang keluar. Aku coba telpon pembimbing kedua, ehh malah marah-marah. Dia bilang aku tidak tahu etiket mengganggu waktu orang istirahat.
Aku keluar dari kios dengan emosi memuncak. Rasa kesal yang makin tak terkontrol .Aku ingin marah-marah. Ingin melampiaskan semuanya Biar semua tahu aku benci dipermainkan.
Laki-laki tinggi besar yang tadi ternyata masih ada di kursi panjang .Melihat aku keluar, dia menghambur kearahku,
“Kamu mau macam-macam sama saya yah? “Sergahnya dengan suara keras
“Emang kenapa ? Saya merasa tidak mengganggu. “Sahutku tidak sopan.
“Truss..maksud kamu banting pintu tadi apa?” Lanjutnya, semakin mendekat. Matanya mendelik
“Lhoo situ kan yang pakai telpon lama-lama? “ Aku tak mau kalah siap berhadapan dengan laki-laki kurang ajar ini.Akan kubuktikan kalau aku bukan orang sembarangan.
“Mau coba-coba sama saya ?” Ketusnya. “Ayo sini !“ Sinar matanya mencorong penuh kebencian
Aku terperenjat dan para pengunjung lain terpaku saat detik berikutnya dia mengeluarkan sebilah keris dari balik tas hitamnya . Keris yang sekonyong-konyong sudah terhunus kearah ku.
“Kamu mau mati yah ?”desisnya kasar.
Kakiku sontak gemetar melihat benda berkilat itu mendekati perutku.
Emosi yang tadi tinggi mendadak surut. Naluri sang jagoan tiba-tiba luruh.
Laki-laki ini dan kerisnya ini tidak main main. “Kalau begini sama saja dengan mati konyol.” Aku kini seperti seonggok benang basah yang tak bisa ditegakkan.
Detik yang paling mengerikan. Detik diman semua pengunjung kios termasuk Mang Kohar sendiri terkesima di tempatnya.
Tidak ada yang berani berbicara. Tidak ada yang berani melerai laki-laki besar yang sedang diamuk amarah. Semua terdiam di tempat
Selanjutnya, aku tidak tahu harus melukiskannya
Aku memohon-mohon minta ampun, sadar nyawaku diujung tanduk.
“Maaf mas…maaf…saya ngga sengaja!”
“Maaf…maaf…enak aja !” Aku merasakan ujung keris itu mulai menyentuh daging di perutku.
“Kamu pengen mati yah ! “Suaranya bergetar penuh amarah “Udah bosan hidup..heeh ?”
“Ngga mas, saya ngga sengaja banting pintu” …”Maaf “
Kakiku lemas, aku terkulai jatuh bersujud dihadapannya. Sirna sudah keberanianku
Seketika aku berubah menjadi seorang pengecut yang tidak dapat berbuat apa-apa selain memohon belas kasihan
“Makanya jangan sok gitu dong …!”
“Biasanya ini pisau nggak akan masuk ke sarungnya lagi kalo belon nagih korban !” Ketusnya sembari memasukkan benda maut itu kembali ke dalam tas hitam.
“Yahh…yah mas….maaf banget….maaf…..desisku…”
“Cuuuuhhh !”…ludahnya menciprat bajuku…”Makan tuh…!”
“Untung kamu ngga mati….!”
Aku relakan saja bajuku terkena semprotan air ludah. Terserah dia mau berbuat apa, aku pasrah
Detik berikut, seakan jiwa kemali ke raga saat dia dengan langkah sempoyongan berbalik pergi. Meninggalkan aku yang betul-betul perlu dikasihani.
Malam itu aku lolos dari maut
Menurut mang Kohar dari percakapan yang didengarnya, lelaki dengan tas hitamnya itu adalah seorang mahasiswa program pascasarjana dari universitas yang sama dengan ku . Ia sedang bermasalah dengan dosen pembimbing juga dengan istrinya sendiri. Si pria bertengkar hebat. Pembimbing ingin agar dia merombak total tesis yang tengah dikerjakan karena dinilai kurang relevan dengan teori yang dipakai. Di sisi lain, sang istri yang tinggal di luar pulau menuntut cerai karena selidik punya selidik si wanita punya pria idaman lain.
Aku terkesiap, sedikit banyak masalahnya persis dengan masalah yang kualami.
Wajar saja laki-laki itu jadi gelap mata
Seminggu kemudian, saat aku harus ke kios telepon untuk suatu keperluan, Mang Kohar menyambutku tidak seperti biasa.
“Sudah tahu belum khabar laki-laki kemaren yang hampir menikam mas di sini ?” Tanyanya spontan
“Memang kenapa Mang ?”
“ Dua hari yang lalu polisi menemukan dia tewas di rumah istrinya. Katanya sih setelah bertengkar dengan laki-laki selingkuhan istrinya itu…. Kepergok sedang berduaan !”
“Astaga…!” Aku terperanjat
“Yah, mas…seremnya matinya ketikam kerisnya sendiri !” Asap tembakau mengepul dari bibir si mang yang hitam
Aku tak tahu harus berkata apa
Sejak saat itu bagaimanapun keadaannya ,aku mulai belajar untuk mengontrol emosiku.


No comments:

Post a Comment